Sejarah Kepemimpinan Perempuan Sulawesi Selatan Inspirasi Kesetaraan Gender

  • 12 Mar 2026 02:11 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Program siaran berjaringan “Suara Budaya Nusantara” yang dipandu RRI Jakarta dan RRI Makassar pada Selasa, 10 Maret 2026, menyoroti pentingnya sejarah kepemimpinan perempuan di Sulawesi Selatan sebagai inspirasi bagi upaya kesetaraan gender masa kini. Dalam siaran yang disiarkan melalui Pro 4 RRI di seluruh Indonesia tersebut, hadir Dr. Ery Iswary, M.Hum., dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Ia menjelaskan bahwa wilayah Sulawesi Selatan memiliki catatan sejarah panjang mengenai keterlibatan perempuan dalam posisi kepemimpinan.

Menurutnya, sejumlah kerajaan di Sulawesi Selatan seperti Gowa, Bone, hingga Pancana pernah dipimpin oleh perempuan yang memiliki kapasitas kepemimpinan yang kuat. Para raja perempuan tersebut tidak hanya menjalankan pemerintahan secara administratif, tetapi juga memiliki kemampuan dalam strategi perang serta perhatian besar terhadap pendidikan.

“Wilayah Sulawesi Selatan memiliki catatan sejarah yang kaya akan keterlibatan perempuan di pucuk kekuasaan. Raja-raja perempuan ini tidak hanya memimpin secara administratif, tetapi juga memiliki kompetensi di bidang strategi perang dan pendidikan,” ujar Dr. Ery.

Salah satu tokoh yang disoroti adalah Wetenriole dari Kerajaan Pancana. Ia memimpin kerajaan tersebut selama 55 tahun dan dikenal mendirikan sekolah rakyat pada pertengahan abad ke-19. Kebijakan pendidikan yang terbuka bagi laki-laki maupun perempuan menunjukkan bahwa akses terhadap ilmu pengetahuan telah menjadi perhatian penting sejak masa kepemimpinannya.

Dr. Ery menilai praktik tersebut selaras dengan upaya pemerintah saat ini untuk memastikan tidak adanya diskriminasi gender dalam akses pendidikan maupun kepemimpinan. Ia juga mengajak generasi milenial untuk memahami bahwa konsep kesetaraan gender bukanlah hal baru bagi masyarakat Indonesia.

“Kesetaraan gender bukanlah konsep impor, melainkan warisan budaya bangsa yang perlu dihidupkan kembali,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kepemimpinan perempuan pada masa lalu bahkan disegani oleh bangsa asing, termasuk Belanda. Hal ini menjadi bukti nyata tentang ketangguhan perempuan Indonesia dalam memimpin dan berkontribusi bagi masyarakat.

Program siaran ini tidak hanya menjadi sarana literasi budaya, tetapi juga bagian dari kampanye kesetaraan gender. Dengan memahami jejak sejarah kepemimpinan perempuan, masyarakat diharapkan semakin terbuka terhadap peran strategis perempuan di berbagai sektor.

Semangat Astacita dalam mewujudkan keadilan gender pun diyakini akan lebih mudah tercapai apabila didukung oleh pemahaman yang kuat terhadap akar budaya bangsa.



Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita