Hilirisasi Sutra Mandiri Perkuat Ekonomi Kreatif Suku Makassar

  • 11 Feb 2026 00:02 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Program prioritas Asta Cita kini menyasar penguatan hilirisasi industri pada sektor ekonomi kreatif berbasis budaya di Sulawesi Selatan. Langkah strategis ini dilakukan dengan mendorong pengolahan ulat sutra dari hulu hingga hilir guna menciptakan kemandirian ekonomi bagi para pengrajin lokal. Selama ini, produksi kain tenun tradisional seperti Lipaq Sabbe masih terkendala oleh tingginya ketergantungan pada benang sutra impor yang harganya fluktuatif.

Mengutip dari berbagai sumber pada dokumen resmi kenegaraan dan khazanah budaya lokal berikut: yang memuat 8 program prioritas nasional, khususnya poin ke-1 (Kemandirian Bangsa), poin ke-2 (Ekonomi Kreatif), dan poin ke-5 (Pemerataan Ekonomi).

Peraturan Presiden (Perpres) No. 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional: Mengatur tentang hilirisasi industri berbasis sumber daya alam dan komoditas unggulan daerah.

Data Komoditas Unggulan Sulawesi Selatan (Dinas Perindustrian & Perdagangan Sulsel): Informasi mengenai potensi ulat sutra di Kabupaten Wajo dan Soppeng serta sentra tenun di Sulawesi Selatan.

​Kajian Budaya Makassar: Literatur mengenai filosofi Siri' na Pacce dan sejarah maritim suku Makassar/Bugis terkait tradisi pembuatan kapal Pinisi dan tenun sutra (Lipaq Sabbe).

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045: Terkait peta jalan Indonesia Emas yang menekankan pada transformasi ekonomi melalui hilirisasi di berbagai sektor, termasuk tekstil dan produk budaya.

Pemerintah berupaya memutus rantai ketergantungan tersebut dengan membangun ekosistem produksi benang lokal di wilayah sentra sutra. Melalui sentuhan teknologi modern, tradisi tenun suku Makassar yang telah diwariskan secara turun-temurun akan diintegrasikan dengan industri fashion siap pakai. Hal ini bertujuan agar produk tenun tidak hanya berakhir sebagai sarung untuk acara adat, tetapi juga menjadi bahan utama pakaian modern berskala internasional.

​Selain meningkatkan nilai tambah komoditas, kebijakan ini diharapkan mampu menyerap tenaga kerja berkualitas dari kalangan generasi muda di daerah. Dengan adanya pabrik pengolahan benang dan pusat desain kreatif di Makassar, para pemuda tidak lagi harus merantau untuk mencari pekerjaan di sektor industri. Langkah ini sejalan dengan misi Asta Cita dalam menciptakan lapangan kerja yang berbasis pada keunggulan kompetitif wilayah.

​Namun, tantangan besar muncul dari sisi standarisasi kualitas dan persaingan harga dengan produk tekstil sintetis. Tokoh masyarakat dan pengusaha lokal menekankan pentingnya perlindungan hak cipta serta dukungan pemasaran yang masif untuk menjaga eksistensi identitas budaya. Kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri kreatif menjadi kunci utama agar hilirisasi ini tidak mencabut akar filosofi Siri' na Pacce yang melekat pada setiap helai kainnya.

​Keberhasilan proyek hilirisasi sutra ini nantinya akan menjadi percontohan bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya di provinsi lain. Jika sektor hulu dapat dikelola secara mandiri, Sulawesi Selatan berpotensi menjadi pusat mode etnik dunia yang berdaulat secara ekonomi. Sinergi antara tradisi kuno dan visi modern Asta Cita ini diharapkan mampu membawa kemakmuran nyata bagi seluruh lapisan masyarakat Makassar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....