Program Mudik Gartis Pemprov Sulsel Mendapat Apresiasi Masyarakat
- 10 Mar 2026 09:14 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar - Kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam menghadirkan program mudik gratis menjelang Lebaran Idul Fitri mendapat apresiasi positif dari masyarakat. Program ini dinilai sebagai langkah nyata pemerintah dalam memastikan masyarakatnya terlayani dengan baik selama musim mudik berlangsung.
Apresiasi ini didasarkan pada penyediaan fasilitas yang sangat membantu warga yang ingin kembali ke kampung halaman mereka. Demikian disampaikan Supriadi Torro, Pengamat Sosial UNM Lewat perbincangan Makassar Menyapa Padi, Selasa, 10 Maret 2026.
“Memang kalau pemerintah selalu mengambil kebijakan untuk melihat masyarakatnya terlayani, maka di musim mudik inilah menjadi contoh yang baik, tentu kita apresiasi kebijakan Pemerintah Provinsi, ya, karena menyiapkan fasilitas untuk pemudik yang ada di kampung-kampung,” katanya dalam perbincangan bersama RRI.
Dikatakan, Dari kacamata sosiologis, mudik ke kampung halaman pada saat Lebaran telah menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Pertemuan dengan sanak keluarga setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun merantau memberikan rasa gembira yang mendalam bagi para pemudik.
Kehadiran fasilitas gratis dari pemerintah ini pun dianggap mampu memenuhi kebutuhan emosional dan sosial tersebut dengan sangat baik. “Dalam sisi sosial bahwa memang kita, terutama di Sulawesi Selatan itu orang Bugis-Makassar, rasanya mudik ke kampung pada saat Lebaran itu adalah menjadi, bertemu dengan sanak keluarga yang sudah beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun ada yang tidak kembali, dengan adanya fasilitas yang memudahkan untuk dilakukan oleh pemerintah ini menjadi rasa menggembirakan itu terpenuhi dengan baik,” katanya kepada RRI.
Lebih lanjut dikatakan bahwa Meski mendapatkan respons positif, efektivitas program ini dalam mengurangi volume kendaraan pribadi diperkirakan masih kecil. Hal ini dikarenakan karakteristik masyarakat yang seringkali harus melanjutkan perjalanan dari pusat kabupaten menuju kecamatan, desa, hingga dusun yang terpencil.
Akibatnya, banyak masyarakat yang tetap merasa perlu membawa kendaraan pribadi untuk memudahkan mobilitas setibanya di kampung halaman nanti. Selain itu, tantangan lain yang muncul adalah dominasi masyarakat kelas menengah ke atas di wilayah perkotaan yang sudah memiliki kendaraan pribadi seperti mobil dan motor.
Jika sosialisasi mengenai program mudik gratis ini terlambat atau tidak merata, kelompok masyarakat ini cenderung akan tetap memilih menggunakan kendaraan sendiri. Oleh karena itu, penetapan titik layanan yang jelas sangat krusial agar seluruh lapisan masyarakat dapat memahami cara mengaksesnya.
Supriadi menambahkan agar Pemerintah Provinsi diharapkan memperluas jangkauan sosialisasi, terutama mengenai rute-rute strategis menuju wilayah Utara seperti Maros hingga Luwu Timur, wilayah Timur seperti Bone dan Soppeng, hingga wilayah Selatan sampai ke Selayar. Sosialisasi yang masif sangat diperlukan karena belum semua masyarakat memahami di mana lokasi penjemputan dan bagaimana prosedur teknis untuk mendapatkan layanan gratis tersebut.
Program ini sendiri dipandang sangat bermanfaat, khususnya bagi kalangan mahasiswa yang ingin pulang kampung tanpa beban biaya. Mengenai aspek keselamatan, Supriadi menekankan bahwa kepadatan kendaraan bukanlah faktor tunggal penyebab kecelakaan lalu lintas.
Faktor yang lebih dominan justru terletak pada kondisi sarana dan prasarana jalan yang banyak mengalami kerusakan atau berlubang, terutama di musim penghujan. Kurangnya kehati-hatian pengendara juga menjadi variabel penting yang harus diperhatikan selain dari sekadar penumpukan volume kendaraan di jalan raya.
Sebagai solusi jangka panjang untuk mengeliminasi permasalahan mudik, pengembangan jalur transportasi alternatif menjadi poin penting yang dibahas. Pengoperasian jalur kereta api secara lancar dinilai dapat menjadi alternatif transportasi yang efektif di masa depan bagi masyarakat Sulawesi Selatan.
Dengan adanya integrasi berbagai moda transportasi, diharapkan layanan publik selama masa Lebaran dapat semakin optimal dan merata bagi seluruh warga.