Mappinawang, Santri Pejuang HAM dan Demokrasi

  • 09 Mei 2025 04:35 WIB
  •  Makassar

KBRN,Makassar: Pada ketiak daun lontara, kubangun masjid untuk lebah dan lebah-lebah berzikir beterbangan karena tak ada hari selain Jumat.

Zikir lebah zikir puisi awan mekar meniru mawar memutikkan ramahnya cinta Akar pohonan minum di mangkok fitrah.

Sungai-sungai ikut mengaji dengan hati-hati mengasuh kerikil Alangkah halus sutra sanubari untuk dianyam, jadi pakaian pada Idul Fitri.

Aule, ini perahu daun ilalang/aku naik sampan shalawat mencari badik-badik di ubun buih Aule, darahku bergetar menembus jantung kabut Selayar.

Puisi berjudul “Mencari Bisik” --Untuk Mappinawang -- yang ditulis penyair nasional D.Zawawi Imron ini menjadi “Hikmah Pengantar”, menandai keunikan halaman-halaman (depan) Romawi, buku “Mengenang Jejak Mappinawang, Santri Pejuang HAM dan Demokrasi” yang diluncurkan di Gedung IMMIM Makassar, Kamis (8/5/2025) bertepatan dengan 100 hari kepergian pendekar hukum Sulawesi Selatan itu ( 28 Januari 2025 di Malino).

Selain “Hikmah Pengantar” penyair yang kini Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Sumenep Madura tersebut, pada halaman berikutnya terdapat Pengantar Bambang Widjoyanto, Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) 1995-2000, Aktivis, dan Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 2011-2015 dengan judul “Dari Makassar dan Papua, Mampir ke Jakarta lalu ke Den Haag”.

Tiga penyunting, Armin Mustamin Toputiri,Baharuddin Moenta, dan Wahyuddin Kessa, memberi judul pengantar mereka “Dari Batangmata Sapo Berakhir di Malino”. Pada halaman terakhir angka Romawi terdapat “Riwayat Singkat Mappinawang Santri Pejuang HAM dan Demokrasi” menyita 6 sepertiga halaman buku.

Buku ini dibagi ke dalam lima bagian yang memuat total 78 tulisan. Tulisan-tulisan ini sebagian besar merupakan hasil wawancara penyunting dengan para narasumber. Selebihnya, tulisan langsung dari para penulis yang tentu saja tetap melewati laptop penyunting untuk menghasilkan tulisan yang dirangkum berjudul “Jejak dan Kenangan Keluarga dan Sahabat”.

Bagian pertama buku ini berlabel “Persaksian Keluarga berisi tiga tulisan. Tulisan pertama diisi Alimuddin Baso, alumnus Pesantren IMMIM yang juga adik sepupu Mappinawang, dengan judul yang penuh “sendu”, “Daengku Mappi, Jejaknya Tersimpan di Batin saya”. Judul ini lebih efektif jika berbunyi “Daeng Mappi, Jejakmu Tersimpan di Batinku”.

Lenawati, istri Mappinawang, mengisi tulisan kedua bagian keluarga ini dengan judul “Suami Penyayang, Sangat Perhatian pada Keluarga”. Tulisan putri bungsu Mappinawang, Nur Aviyah, berjudul ” Orang Tua Serba Bisa” mengakhiri bagian pertama ini.

Bagian II, berjudul “Persaksian Sahabat Alumni Pesantren IMMIM” berisi 16 tulisan. Bagian III, “Persaksian Sahabat Aktivis NGO” berisi 25 tulisan. Bagian IV, “Persaksian Sahabat Birokrat, Akademisi, KPU, dan Advokat” berisi 21 tulisan. Dan, Bagian V, “Persaksian Sahabat Jurnalis dan Mantan Aktivis Mahasiswa”, berisi 13 tulisan. Buku ini dikunci dengan “Glosarium”.

Buku setebal 44 halaman tersebut dikomentari oleh Prof.Dr.H.M.Said Karim, S.H.,M.H.,M.Si, CM, CLA (Guru Besar Fakultas Hukum Unhas), Prof.Dr.H.Karta Jayadi,M.Sn (Rektor UNM), Alwy Rahman (pensiunan Dosen FIB Unhas), dan Sudirman HN, Ph.D. (Dosen FKM Unhas).

Sebelum moderator Baharuddin Moenta menyilakan empat pembicara tersebut, Wahyuddin Kessa dipersilakan memberikan sambutan mewakili penyunting. Agaknya, tim penyunting membagi habis tugas pada acara peluncuran buku ini karena Armin Mustamin Toputiri pun memperoleh bagian menyampaikan suka-duka dapur proses penerbitan buku dengan foto cover yang sangat ‘hidup’ ini.

Pihak keluarga, terdiri atas Lenawati, S.H. perempuan yang juga sepupunya, dinikahi Mappinawang 25 September 1988, didampingi sepasang buah hatinya, Ahmad Rizaldi, lahir 19 Februari 1991, dan Nur Aviyah, lahir 16 Juli 1995, tampil memberikan sambutan atas nama keluarga. Seperti sudah diramalkan, ini sambutan yang “sulit” dan sangat sentimental (bersifat menyentuh perasaan).

Prof. M.Said Karim didapuk penyunting buku sebagai pembicara karena satu angkatan (1982) dengan Mappinawang ketika berkuliah di Fakultas Hukum Unhas.

“Saya mengenal Mappinawang belum lama, 43 tahun yang lalu. Ketika -- menurut anak-anak zaman sekarang -- masih ‘culun-culun’ (kuno atau tidak gaul),” kata Maha Guru Fakultas Hukum Unhas yang pernah menjadi Saksi Meringankan dalam kasus Irjen Pol. Ferdy Sambo.

Saat diterima di Unhas, cerita Said Karim, sebagian dari 170 mahasiswa, seluruh pria itu digundul. Jelas, tidak ada yang gagah kalau orang dalam keadaan gundul. Pada saat itu, dia termasuk seorang yang tenang, pendiam, kalem, sehingga kurang dikenal. Namun pada saat kuliah dan ujian “Asas-Asas Hukum Islam” yang diampu Drs.Ma’mun Rauf, banyak peserta yang tidak lulus. Mappinawang lulus, selain dia anak pesantren, juga mengawali tulisan di kertas ujiannya dengan kata “basmalah”.

“Saya menilai Mappinawang yang penuh kontroversial. Dalam keseharian dia termasuk tokoh yang kalem, tenang, dan pendiam, pasti akan memilih pekerjaan yang tenang juga. Tetapi saya kaget, karena ternyata dia menjadi pengacara yang suka berdebat. Dia menjalani profesinya dengan baik dan sukses,”ujar Said Karim.

Prof. Karta Jayadi menilai, Mappinawang seorang yang religius. Dalam pengakuannya, meskipun Mappinawang memiliki pacar sendiri, namun dia mengikuti kehendak orang tuanya untuk menikahi keluarga dan sepupunya sendiri, Lenawati.

“Mapinawang bisa adaptif dengan siapapun.” ujar Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) tersebut yang tampil sebagai ‘komentator’ kedua.

Karta Jayadi menyebutkan, dalam sosok Mappinawang terdapat filosofi hidup orang Bugis berani (warani), jujur (lempu), teguh (getteng) dan cerdas (acca).

“Sembilan tahun mengenal Mappinawang, saya memperoleh banyak keteladanan dalam persahabatan,”kunci Karta Jayadi.

Alwy Rachman memandang Mappinawang dalam meta konteks yang panjang, setelah mengenalnya sejak tahun 1997 dalam berbagai kegiatannya, khususnya keterlibatannya dalam lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Dia menilai, Mappinawang adalah sosok yang kosmopolit, meskipun dihadapkan pada masalah-masalah yang sulit dan rumit.

Sudirman HN mengatakan persentuhannya dengan Mappinawang tidak begitu lama. Sebagai ‘santri’ pertama Pesantren IMMIM Tamalanrea, Sudirman HN awalnya menilai dia akan bersikap otoriter dan paternalistik. Namun dalam kenyataannya, Mappinawang adalah figur yang egaliter dan ramah dengan siapa pun.

“Kak Mappi tidak menggunakan ‘privilege’ (hak istimewa) yang sebenarnya bisa saja digunakan,” ungkap Sudirman HN dalam acara peluncuran yang dipenuhi undangan tersebut. Ikut memberikan komentar selain empat pembicara ini adalah Syamsuddin Umar, Nasiruddin Pasigai, Bahar Ngitung, dan Nasrun Hamzah. (MDA).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....