Cara Mengurangi Decision Fatigue
- 03 Okt 2026 10:55 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Pernah merasa lelah hanya karena harus menentukan menu makan siang, memilih pakaian, atau memutuskan hal kecil lainnya? Jangan buru-buru menganggapnya sepele. Terlalu banyak pilihan yang harus dipikirkan setiap hari ternyata dapat menguras energi mental. Kondisi ini dikenal sebagai decision fatigue.
Decision fatigue merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kelelahan mental akibat harus membuat terlalu banyak keputusan. Jika tidak dikelola, seseorang dapat merasa semakin sulit menentukan pilihan, bahkan untuk hal-hal sederhana.
Psikolog sekaligus Founder Psikologianak.id dan Dosen Psikologi UKWMS, Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, mengatakan salah satu cara sederhana untuk mengurangi decision fatigue adalah dengan membatasi pilihan yang tersedia.
Hal tersebut disampaikan Robik saat menjadi narasumber dalam acara Teman Cerita PRO 1 RRI Madiun, Selasa 29 Seeptember 2026. Menurutnya, seseorang tidak perlu menghadapkan diri pada terlalu banyak pilihan sekaligus. Berbagai opsi dapat disaring terlebih dahulu berdasarkan kebutuhan dan prioritas.
“Kita coba cari beberapa opsi. Dari sekian banyak opsi kita filter menjadi opsi yang jauh lebih mengerucut. Dengan membatasi pilihan atau memberikan filter dan ranking terhadap pilihan itu adalah cara sederhana untuk mengurangi decision fatigue,” kata Robik.
Selain membatasi jumlah pilihan, energi mental juga perlu dikelola dengan menentukan prioritas. Keputusan yang berkaitan dengan keberlangsungan hidup dan masa depan, menurut Robik, perlu mendapatkan perhatian lebih dibandingkan keputusan-keputusan kecil dalam keseharian. Dengan cara tersebut, seseorang tidak perlu menghabiskan energi yang sama untuk setiap pilihan yang muncul.
Robik menjelaskan, decision fatigue merupakan kondisi yang dapat dialami banyak orang karena kehidupan sehari-hari memang tidak lepas dari berbagai pilihan. Persoalannya bukan sekadar banyaknya pilihan, tetapi juga keinginan seseorang untuk mendapatkan pilihan yang dianggap paling baik atau bahkan sempurna.
“Kadang-kadang ketika kita mengambil keputusan dan mengejar kesempurnaan itu malah kita jadi enggak dapat,” ungkapnya.
Karena itu, setelah melalui pertimbangan yang matang, seseorang perlu belajar mempercayai keputusan yang telah dibuat dan berkomitmen terhadap pilihan tersebut.
“Jadi mungkin pesannya adalah kita coba percaya dan komit sama apa yang sudah kita pilih. Tetapi pilihan kita harus berasal dari pilihan yang memang berasal dari kepala dingin, pilihan yang benar-benar dipertimbangkan dengan matang,” pungkas Robik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....