Radio Dituntut Beradaptasi di tengah Gempuran Platform Digital
- 16 Sep 2026 06:21 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Kota Madiun – Industri radio menghadapi tantangan besar di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan perilaku audiens. Adaptasi terhadap platform digital serta kemampuan membaca kebutuhan pendengar dinilai menjadi kunci agar radio tetap relevan dan mampu bertahan.
Hal itu disampaikan Wakil Rektor Bidang Akademik, Sumber Daya Manusia, dan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Dr Fajar Junaedi S.Sos., M.Si. serta Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Merdeka (UNMER) Madiun Fikri Hasan S.Sos., M.I.Kom.

Fajar menilai, perubahan teknologi harus diikuti dengan penyesuaian strategi lembaga penyiaran. Radio tidak bisa lagi hanya mengandalkan siaran terestrial, tetapi perlu hadir di berbagai platform yang digunakan audiens.
"Yang pertama tentu saja adaptasi. Adaptasi terhadap perubahan teknologi yang sedang terjadi," kata Fajar.
Menurut dia, adaptasi teknologi juga harus berjalan beriringan dengan perubahan perilaku audiens. Lembaga penyiaran perlu memahami bagaimana masyarakat saat ini mengakses informasi dan hiburan.
Bagi lembaga penyiaran swasta, lanjut Fajar, penyesuaian juga perlu dilakukan terhadap kebutuhan pengiklan. Paket promosi dapat dikembangkan secara multiplatform, tidak hanya melalui siaran radio, tetapi juga media digital hingga kegiatan off air.
"Artinya, tawaran iklannya bisa multiplatform, tidak hanya untuk terestrial, tetapi melalui hal-hal yang lain, termasuk event off air," ujarnya.
Selain adaptasi teknologi, Fajar menekankan pentingnya membangun dan mempertahankan komunitas audiens. Menurut dia, keberadaan komunitas dapat menjadi kekuatan radio untuk menjaga kedekatan dengan pendengar.
"Hal lain yang perlu dibangun dalam konteks audiens adalah mengembangkan komunitas. Setahu saya RRI cukup solid komunitasnya," jelasnya.
Namun, Fajar mengingatkan agar transformasi digital tidak membuat radio kehilangan karakter dan identitas sejarahnya. Hal itu terutama penting bagi Radio Republik Indonesia (RRI) yang memiliki perjalanan panjang dalam sejarah bangsa.
"Jadi kata kuncinya adalah adaptasi dan jangan kemudian menghilangkan DNA sejarahnya," tegasnya.
Dia menyebut RRI memiliki posisi historis yang kuat sebagai lembaga penyiaran yang turut menyiarkan kabar Proklamasi Kemerdekaan serta merekam berbagai peristiwa penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Sementara itu, Fikri Hasan melihat persaingan radio dengan media sosial tidak harus dipandang sebagai pertarungan antarmedia. Masing-masing platform memiliki fungsi dan karakter audiens yang berbeda.
"Sebenarnya mereka punya peran masing-masing. Tinggal bagaimana audiens atau masyarakat menggunakan beberapa platform itu untuk menerima informasi," katanya.
Fikri mencontohkan langkah RRI yang kini tidak hanya mengandalkan siaran radio. Konten audio-visual melalui YouTube serta distribusi konten di berbagai media sosial menjadi bagian dari perubahan pola penyampaian informasi.
| Baca juga: Membangun Budaya Pilah Sampah di Masyarakat |
Menurut dia, hal yang tidak kalah penting adalah kemampuan lembaga penyiaran membaca kebutuhan masyarakat. Radio harus mengetahui isu dan informasi apa yang dibutuhkan audiens sehingga keberadaannya tetap memiliki nilai.
"Kedekatan itu bagaimana lembaga penyiaran melihat apa sebenarnya yang dibutuhkan audiens," ujarnya.
Radio, lanjut Fikri, juga memiliki peran dalam melihat kondisi sosial dan pembangunan di tengah masyarakat, sekaligus menjadi ruang untuk menyampaikan masukan publik.
Dia menilai perubahan yang dilakukan RRI sejauh ini menunjukkan kemampuan lembaga tersebut mengikuti perkembangan platform digital. Pergeseran pola konsumsi media tidak berarti radio kehilangan peran, melainkan mendorong perubahan cara radio menjangkau audiens.
"Kalau bergeser, ya secara penggunaan. Tetapi RRI mengikuti dengan perubahan-perubahan platform itu tadi," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....