Festival Kaligrafi Internasional Pondok Gontor Diikuti 4 Negara ASEAN
- 08 Sep 2026 19:17 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Ponorogo: Goresan tinta membentuk huruf-huruf Arab di atas kertas dan kanvas. Setiap tarikan pena tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menjadi bagian dari upaya merawat tradisi dan warisan peradaban Islam.
Nuansa itu terasa dalam Festival Kaligrafi Internasional yang digelar di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Desa Gontor, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Selasa (8/9/2026).
Festival yang menjadi bagian dari peringatan satu abad atau 100 tahun perjalanan Gontor tersebut mengusung tema “Menulis Peradaban, Merawat Warisan, Menuju Abad Kedua Gontor”.
Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 8-10 September 2026. Tidak hanya menjadi ajang perlombaan, festival juga menjadi ruang bertemunya kaligrafer, seniman, santri, guru, alumni, dan masyarakat untuk berbagi pengetahuan serta pengalaman.
Pembukaan festival berlangsung di New Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) PMDG. Sejumlah maestro kaligrafi nasional turut hadir, di antaranya Dr. KH. Didin Sirojuddin Abdul Razaq, M.Ag., dan Drs. Syaiful Adnan.
Didin Sirojuddin mengatakan Gontor memiliki sejarah panjang dalam pengembangan seni kaligrafi. Menurutnya, Gontor merupakan salah satu pesantren yang memasukkan khat atau kaligrafi sebagai bagian dari kurikulum pendidikan.
“Di antara tujuan seni kaligrafi adalah untuk mendidik kesabaran, mendidik ketekunan, dan mendidik kreativitas,” ujar Didin, Selasa (8/9/2026).
Ia menilai penyelenggaraan Festival Kaligrafi Internasional di Gontor menunjukkan perkembangan seni kaligrafi di Indonesia yang semakin pesat.
“Festival kaligrafi internasional di Gontor ini menjadi cahaya mercusuar untuk menunjukkan betapa sekarang itu kaligrafi di Indonesia berkembang dengan pesat dan revolusioner,” katanya.
Didin yang juga pernah menimba ilmu di Gontor mengaku memiliki ikatan khusus dengan pesantren tersebut. Ilmu kaligrafi yang diperolehnya di Gontor kemudian dikembangkan hingga menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai maestro kaligrafi.
“Jadi saya mendapatkan ilmu ini dari Gontor, saya kembangkan seperti yang kita lihat sekarang,” ujarnya.
Menurutnya, pembelajaran Al-Qur'an saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga menulis.
“Dulu Al-Qur'an itu hanya dilihat dari sudut iqra-nya saja atau dibaca. Sekarang sudah iqra dan bil qalam. Jadi baca tulis,” jelasnya.
Festival Diikuti Kaligrafer Empat Negara ASEAN
Ketua Acara 100 Tahun Pondok Gontor, Prof. Dr. H. Khairul Umam, M.Ec., mengatakan festival menjadi ruang pertemuan para kaligrafer dari Indonesia, kawasan ASEAN, dan sejumlah negara lainnya.
“Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan kaligrafer dari Indonesia, kawasan ASEAN, dan berbagai negara. Pertemuan itu sekaligus membuka ruang pertukaran ilmu, pengalaman, dan wawasan antarkaligrafer,” kata Khairul Umam.
Dalam lomba kaligrafi, tercatat sebanyak 279 peserta ambil bagian. Mereka berasal dari empat negara ASEAN, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand.
Khairul Umam mengatakan festival diselenggarakan sebagai ungkapan syukur atas perjalanan 100 tahun Gontor. Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat peran pesantren dalam menjaga nilai-nilai Islam melalui seni visual.
“Kegiatan ini juga memperkuat peran pesantren dalam menjaga nilai Islam melalui seni visual. Selain itu, festival menjadi upaya menghidupkan kembali tradisi kaligrafi klasik,” ujarnya.
Selain lomba, festival juga menghadirkan sejumlah workshop dan sharing session. Materi yang diberikan antara lain pembuatan Kertas Daluang Gontor, Tazhib, Kaligrafi Klasik Thuluth Jali, dan Seni Ebru.
Ada pula sharing session bertajuk “Nusantara Menuju Mata Dunia” serta “Mushaf Gontor”. Menurut Khairul Umam, workshop Kertas Daluang Gontor menjadi salah satu upaya menghidupkan kembali tradisi pembuatan kertas yang telah lama dikenal di kawasan Tegalsari.
“Kertas yang sudah lama menjadi tradisi Tegalsari, sekarang ingin dilestarikan ulang. Maka nanti akan ada workshop Kertas Daluang Gontor,” jelasnya.
Rangkaian workshop diikuti sekitar 350 peserta yang berasal dari santri dan guru PMDG putra maupun putri, pondok alumni, pondok-pondok kaligrafi, hingga masyarakat umum.
Menjadi Ruang Apresiasi Masyarakat
Festival juga menghadirkan pameran kaligrafi yang dapat dinikmati masyarakat. Pameran menjadi ruang untuk memperkenalkan lebih dekat seni kaligrafi Islam sekaligus menampilkan karya para kaligrafer.
Penyelenggara menargetkan sedikitnya 3.000 pengunjung selama festival berlangsung. Maestro kaligrafi Indonesia, Drs. Syaiful Adnan, menyebut festival di Gontor sebagai kegiatan yang luar biasa dan menjadi salah satu event kaligrafi terbesar di Indonesia.
“Saya sejak 1979 ikut pameran di MTQ Semarang sampai sekarang ini yang luar biasa. Mudah-mudahan kaligrafi ke depan lebih memberikan pencahayaan untuk Indonesia umumnya,” tuturnya.
Melalui Festival Kaligrafi Internasional, Gontor ingin menjadikan seni kaligrafi bukan sekadar karya visual, tetapi juga media untuk merawat tradisi, mempertemukan berbagai generasi, dan membuka jejaring lintas negara. Festival tersebut diharapkan dapat menjadi ruang lahirnya generasi serta gerakan baru dalam seni kaligrafi Islam, sejalan dengan semangat Gontor memasuki abad kedua perjalanannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....