Cuaca Madiun Raya 13-15 Agustus 2026, Cerah-Cerah Berawan, Peluang Hujan Nihil
- 13 Agt 2026 12:35 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nganjuk merilis, perkembangan kondisi iklim hingga awal Agustus 2026 menunjukkan kecenderungan atmosfer yang semakin mendukung kondisi kering di Jawa Timur. Fenomena El Niño kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif menjadi faktor dominan yang berkontribusi terhadap berkurangnya suplai hujan di wilayah Indonesia. Pengamat Meteorologi dan Geofisikan BMKG Nganjuk Setiyaris mengungkapkan, kondisi itu diperkuat oleh hari tanpa hujan (HTH) yang semakin panjang, bahkan mencapai kategori ekstrem (lebih dari 60 hari tanpa hujan) di beberapa wilayah. Kemudian meningkatnya kemunculan titik panas (hotspot) di Jawa Timur, yang mengindikasikan kemarau semakin intens dan kering. Semetara untuk prospek cuaca di wilayah Madiun Raya didominasi cerah hingga cerah berawan dengan peluang hujan yang sangat rendah.
”Wilayah Madiun Raya dalam tiga hari ke depan diprakirakan didominasi cuaca cerah hingga cerah berawan dengan peluang hujan yang sangat rendah atau nihil,” ungkap Setiyaris, Kamis 13 Agustus 2026.
Pagi hari, cuaca cerah hingga udara kabur (haze). Langit cenderung bersih, suhu udara berkisar 18–25°C, dengan kondisi yang relatif dingin atau bediding, terutama di wilayah Magetan pada lereng Gunung Lawu dan Ponorogo. Kelembapan udara masih relatif tinggi, yaitu sekitar 75–95%, terutama pada pagi hari. Angin bertiup dominan dari arah timur-tenggara dengan kecepatan sekitar 5–15 km/jam.
Siang hari, cuaca cerah terik dengan tutupan awan yang sangat minim sehingga potensi pertumbuhan awan hujan relatif rendah. Suhu udara meningkat hingga sekitar 28–33°C, bahkan berpotensi mencapai 33–35°C di wilayah dataran rendah yang relatif kering seperti Ngawi dan Kota Madiun. Kelembapan udara menurun cukup signifikan, berada pada kisaran 40–60%, sehingga kondisi atmosfer terasa lebih panas dan kering. Angin bertiup dari arah Tenggara-barat daya dan cenderung lebih kencang dengan kecepatan sekitar 15–35 km/jam.
Malam dan dini hari, cuaca cerah hingga cerah berawan, kemudian berpotensi berubah menjadi udara kabur (haze) hingga kabut tipis, terutama di wilayah pesisir Pacitan dan kawasan lereng pegunungan di Magetan. Suhu udara mengalami penurunan bertahap dari sekitar 21–26°C pada awal malam hingga mencapai 16–20°C menjelang dini hari. Seiring penurunan suhu, kelembapan udara meningkat dari sekitar 65–85% pada malam hari menjadi 85–99% pada dini hari. Angin umumnya bertiup dari arah tenggara hingga selatan-tenggara dengan kecepatan 5–15 km/jam, kemudian melemah menjadi sekitar 5–10 km/jam pada dini hari dan cenderung tenang (calm).
Setiyaris menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan ekstrem akibat puncak musim kemarau seperti di Ngawi, Ponorogo dan Madiun. Masyarakat juga dilarang membakar sampah maupun membuka lahan dengan menggunakan api karena kombinasi suhu tinggi, kelembapan rendah, tutupan awan yang minim, dan angin yang menguat pada siang hari dapat mempercepat pengeringan vegetasi dan penyebaran api apabila terjadi kebakaran. Selain itu, perlu diwaspadai angin kencang pada siang hingga sore hari yang berpotensi menyebabkan pohon tumbang. Sementara itu, masyarakat di wilayah dataran tinggi seperti Magetan dan Ponorogo diimbau menjaga kondisi kesehatan dan mengantisipasi suhu dingin (bediding) yang dapat terjadi pada malam hingga dini hari. Nelayan dan wisatawan di wilayah pesisir Pacitan juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi angin kencang dan gelombang tinggi yang dapat membahayakan aktivitas di laut maupun kawasan pesisir. (Shabrina).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....