Warga Madiun Ubah Sampah MBG Jadi Biodiesel B100
- 09 Agt 2026 16:43 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Kota Madiun - Sampah rumah tangga, limbah pasar, hingga sisa program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tak lagi sekadar menjadi beban lingkungan. Di tangan Cahya Yudi Widianto, limbah organik tersebut berhasil diolah menjadi biodiesel B100, bahan bakar yang seluruhnya berasal dari bahan nabati.
Inovasi itu dikembangkan di fasilitas milik PT Moralis Cahaya Internasional di Jalan Sawahan, Kelurahan Manguharjo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun. Awalnya, proyek tersebut merupakan kajian ilmiah yang kini telah rampung dan siap memasuki tahap pengembangan.
Cahya mengungkapkan, riset itu berawal dari permintaan Kementerian Pertanian melalui Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Suwandi. Menurut dia, keduanya telah saling mengenal sejak dirinya menjadi tenaga ahli di Kementerian Perindustrian.
"Awalnya ini kajian ilmiah. Sekarang penelitiannya sudah selesai. Permintaan datang dari Kementerian Pertanian melalui Pak Suwandi," ujarnya, kemarin.
Pengembangan teknologi tersebut Cahya menjelaskan, juga mendapat supervisi akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Brawijaya (UB). Di antaranya Prof. Dr. Lilik Eka Radiati, Prof. Masruri, Dr. Agus Susilo, Prof. Dr. Mustofa dan lainnya.
Cahya menyatakan, perusahaannya semula bergerak di bidang produksi pupuk berbasis enzim. Keahlian itu kemudian dikembangkan untuk mengolah limbah organik menjadi energi terbarukan.
"Karena teknologi kami berbasis enzim, kami diminta meneliti apakah limbah rumah tangga dan limbah pasar bisa diolah menjadi solar. Alhamdulillah sekarang sudah berhasil," katanya.
Bahan baku yang digunakan beragam, mulai nasi sisa, telur, daging, cabai, minyak jelantah, hingga limbah organik lain. Bahkan, saat ini timnya memanfaatkan sisa makanan dari program MBG di salah satu sekolah di kawasan Ring Road Kota Madiun sebagai bahan uji coba.
Menurut Cahya, setiap satu kilogram limbah organik maupun satu kilogram minyak jelantah dapat menghasilkan sekitar satu liter biodiesel B100.
Proses produksinya dimulai dengan pasteurisasi limbah, dilanjutkan penghancuran dan fermentasi. Setelah itu pati dipisahkan sehingga hanya gula yang dimanfaatkan. Gula hasil fermentasi kemudian diubah menjadi asam lemak bebas (free fatty acid/FFA) yang menjadi bahan dasar pembuatan biodiesel.
"Semua tanaman mengandung gula. Dari gula itu difermentasi menjadi FFA, kemudian diolah menjadi biosolar (biodiesel). Bahkan secara teori bisa dikembangkan menjadi bensin hingga avtur," jelasnya.
Untuk bahan baku minyak jelantah, proses produksi hanya membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Sementara limbah organik memerlukan waktu sekitar 10 hari hingga menjadi bahan bakar siap pakai.
Saat ini kapasitas produksi masih disesuaikan dengan kemampuan reaktor. Namun, Cahya menargetkan mampu memproduksi 1.000 liter biosolar per hari mulai bulan depan. Dengan kapasitas tersebut, sekitar tiga ton limbah organik dapat diolah setiap hari.
"Hasilnya sudah diuji pada mobil maupun truk dan bisa digunakan," katanya.
Biaya pokok produksi (HPP) biosolar B100 tersebut sekitar Rp12 ribu per liter. Produk itu rencananya dipasarkan ke sektor industri dengan harga sekitar Rp16 ribu per liter.
Ke depan, Cahya berharap setiap kabupaten/kota memiliki fasilitas serupa yang terintegrasi dengan Sentra Produksi Pangan Gizi (SPPG). Dengan begitu, limbah organik dari sekolah, pasar, restoran, hingga rumah tangga dapat langsung diolah menjadi energi terbarukan.
"Saya berharap Indonesia bisa seperti Jepang. Sampah dipilah sejak dari sumbernya dan semuanya bisa dimanfaatkan menjadi energi, sehingga tidak lagi menumpuk di tempat pembuangan," terangnya.
Sementara itu, Subkoordinator Pencegahan Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun Annita Yuli Mayasari menilai inovasi tersebut menjadi solusi bagi persoalan sampah organik yang selama ini mendominasi timbulan sampah di Kota Madiun.
Menurut dia, keberadaan fasilitas pengolahan limbah milik PT Moralis Cahaya Internasional akan membantu pemerintah daerah mengurangi volume sampah dari pasar, restoran, hotel, hingga SPPG.
"Ini menjadi solusi yang sangat baik bagi Pemerintah Kota Madiun dalam menangani persoalan sampah organik. Selama ini kami masih mencari model pengelolaan yang efektif," tambahnya.
DLH berencana menjalin kolaborasi dengan PT Moralis Cahaya Internasional melalui program sosialisasi kepada masyarakat. Langkah tersebut juga akan mendukung program pemilahan sampah dari rumah yang segera diluncurkan Pemerintah Kota Madiun.
"Kami berharap masyarakat semakin memahami bahwa sampah organik bukan lagi limbah, tetapi memiliki nilai ekonomi karena bisa diolah menjadi energi terbarukan," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....