Mengenal Apa itu Trauma Bonding
- 05 Agt 2026 23:22 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Trauma bonding merupakan kondisi ketika seseorang tetap terikat secara emosional dengan orang yang menyakitinya. Hubungan tersebut sering kali dipenuhi luka, kekecewaan, manipulasi, bahkan kekerasan, namun korban merasa sangat sulit untuk meninggalkan hubungan tersebut.
Banyak orang bertanya, "Kalau memang disakiti, kenapa tidak tinggal putus saja?" Faktanya, trauma bonding bukan sekadar persoalan pilihan, melainkan melibatkan proses psikologis yang kompleks. Kondisi ini dapat membuat korban terus bertahan meski mengalami penderitaan berulang.
Hal tersebut disampaikan oleh Founder Psikologianak.id sekaligus Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, saat menjadi narasumber dalam program Teman Cerita di PRO 1 RRI Madiun, Selasa (4/8/2026).
"Trauma bonding itu sebenarnya kondisi seseorang yang mereka tetap ingin terikat secara emosional kepada orang yang menyakitinya, akibat adanya siklus kekerasan yang diselingi dengan perhatian, kasih sayang, atau harapan akan perubahan," ujar Robik.
Menurutnya, trauma bonding umumnya terbentuk melalui siklus hubungan yang berlangsung berulang. Pada awal hubungan, seseorang biasanya merasakan perhatian dan kasih sayang yang besar. Namun, seiring waktu mulai muncul kontrol, kritik, atau perlakuan yang menyakitkan. Setelah terjadi konflik, pelaku kemudian meminta maaf atau kembali menunjukkan kasih sayang sehingga korban merasa lega dan percaya keadaan akan berubah menjadi lebih baik. Siklus tersebut terus berulang dan membuat korban terbiasa hidup dalam ketidakpastian emosional.
"Trauma bonding bisa terbentuk karena adanya siklus yang berulang," kata Robik.
Robik menegaskan bahwa trauma bonding bukanlah bentuk cinta yang sehat. Cinta yang sehat seharusnya membuat seseorang merasa aman, dihargai, dan bebas menjadi dirinya sendiri. Sebaliknya, trauma bonding membuat seseorang bertahan karena rasa takut kehilangan, rasa bersalah, atau harapan bahwa suatu saat pasangan akan berubah.
"Yang dipertahankan sering kali bukan hubungan yang sehat, melainkan ikatan akibat luka yang terus berulang," pungkasnya.
Melalui pemahaman mengenai trauma bonding, masyarakat diharapkan dapat lebih mengenali tanda-tandanya sejak dini serta memberikan dukungan kepada orang-orang terdekat yang mengalaminya agar berani mencari bantuan dan keluar dari hubungan yang tidak sehat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....