Screen Time Berlebihan Bisa Memicu Anak Kecanduan Gadget dan Menurunkan Fokus
- 12 Jul 2026 13:17 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Pemberian gadget sebagai 'penenang' anak saat orang tua merasa lelah mengasuh dinilai menjadi salah satu penyebab munculnya keterikatan anak terhadap layar digital. Jika berlangsung berlebihan sejak usia dini, kebiasaan tersebut berpotensi mengganggu perkembangan kemampuan mengatur emosi, perhatian, hingga perilaku anak.
Psikolog sekaligus Founder psikologanak.id dan dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Madiun, Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, mengatakan masa awal kehidupan merupakan periode penting bagi anak untuk belajar mengembangkan berbagai kemampuan dasar melalui interaksi dengan lingkungan.
Menurutnya, ketika anak memasuki usia sekitar dua tahun, mereka sedang berada pada fase eksplorasi dengan rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Namun, tidak sedikit orang tua yang kemudian memilih memberikan gadget agar anak lebih tenang ketika mereka merasa lelah menghadapi tingkah laku anak.
"Ketika screen time diberikan secara berlebihan, melebihi kapasitas yang seharusnya, tahapan belajar yang seharusnya berkembang pada anak menjadi tidak optimal. Akibatnya anak menjadi sangat mudah terpaku pada layar," ujar Robik, Minggu (12/7/2026).
Ia menjelaskan, tampilan visual yang penuh warna, gerakan cepat, serta suara yang terus berubah pada gadget memberikan stimulasi yang sangat kuat bagi otak anak. Kondisi tersebut membuat anak lebih tertarik pada layar dibandingkan aktivitas bermain atau belajar secara langsung.
Dampaknya, anak berpotensi menunjukkan ketergantungan terhadap gadget. Saat perangkat tersebut diambil, mereka lebih mudah marah, menangis, bahkan mengalami tantrum karena kemampuan mengelola emosi dan mengendalikan diri masih berada dalam tahap perkembangan.
"Self regulation atau kemampuan mengatur perhatian, mengatur emosi, dan mengendalikan dorongan diri pada anak masih dalam proses belajar. Ketika kemampuan itu belum matang tetapi terus distimulasi dengan konten gadget yang bergerak cepat, akhirnya muncul keterikatan terhadap gadget," jelasnya.
Robik juga menyoroti kebiasaan menggulir (scroll) video pendek yang kini banyak ditemui di berbagai platform media sosial. Menurutnya, berbagai penelitian terbaru menunjukkan pola konsumsi konten semacam ini dapat memengaruhi perkembangan psikologis anak, terutama pada kemampuan mempertahankan perhatian atau attention span.
Ia menjelaskan, anak yang terbiasa mengonsumsi video berdurasi singkat dengan pergantian gambar yang cepat akan lebih sulit berkonsentrasi dalam waktu lama ketika harus mempelajari sesuatu.
"Riset terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan melihat konten dengan scroll yang sangat mudah dan video pendek membuat rentang perhatian atau attention span anak menjadi lebih pendek," katanya.
Padahal, lanjut Robik, proses belajar membutuhkan kemampuan memusatkan perhatian selama beberapa menit untuk memahami informasi secara utuh. Sebaliknya, anak yang terbiasa memperoleh hiburan instan dari video singkat akan cenderung cepat merasa bosan dan langsung berpindah ke konten lain hanya dengan satu kali usapan layar.
"Anak menjadi terbiasa mendapatkan reward secara instan. Kalau merasa kontennya tidak menarik, mereka tinggal scroll. Kebiasaan ini akhirnya membuat kemampuan mereka untuk mempertahankan perhatian menjadi semakin pendek," tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....