antara Kesepian dan Kesendirian : Memahami Fenomena Solo Table Theory

  • 03 Jun 2026 06:16 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Belakangan ini muncul fenomena yang dikenal dengan istilah Solo Table Theory, sebuah tren yang banyak dialami oleh generasi Milenial dan Gen Z. Fenomena ini menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa nyaman melakukan berbagai aktivitas seorang diri, mulai dari makan sendiri, menikmati waktu tanpa ditemani orang lain, hingga melakukan perjalanan atau travelling secara mandiri.

Hal tersebut disampaikan oleh Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, yang juga merupakan founder Psikologanak.id dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, saat menjadi narasumber dalam program Teman Cerita PRO 1 RRI Madiun, Selasa (2/6/2026).

Menurut Robik, fenomena ini perlu dipahami secara tepat agar tidak disalahartikan sebagai bentuk perilaku antisosial. Dalam perspektif psikologi, terdapat perbedaan mendasar antara kesendirian (solitude) dan kesepian (loneliness).

“Kesendirian adalah kondisi fisik ketika seseorang sedang sendiri. Sedangkan kesepian merupakan pengalaman emosional ketika seseorang merasa tidak memiliki koneksi yang bermakna, bahkan ketika berada di tengah banyak orang,” jelasnya.

Ia menambahkan, seseorang dapat menikmati kesendirian dengan perasaan damai dan nyaman. Sebaliknya, seseorang yang berada di lingkungan ramai belum tentu terbebas dari rasa kesepian.

“Artinya, seseorang bisa sendiri tetapi merasa damai. Sebaliknya, seseorang juga bisa bersama banyak orang tetapi merasa sangat kesepian. Ini menjadi poin penting dalam memahami Solo Table Theory,” ujarnya.

Lebih lanjut, Robik menjelaskan bahwa meningkatnya kenyamanan seseorang dalam menjalani aktivitas solo dipengaruhi oleh berkembangnya kemandirian emosional. Kesadaran ini membuat individu memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada kehadiran atau validasi dari orang lain. Menurutnya, banyak orang mulai belajar untuk menikmati waktu pribadi sebagai bagian dari proses mengenal diri dan memenuhi kebutuhan emosional secara sehat.

“Pada akhirnya, orang yang merasa mandiri secara emosional mulai merasa nyaman untuk makan sendiri, menonton sendiri, travelling sendiri, dan menikmati waktu pribadi. Bukan karena antisosial, tetapi karena memiliki kemampuan untuk merasa cukup dengan dirinya sendiri. Dalam psikologi, hal ini sering dikaitkan dengan autonomy atau kebutuhan akan otonomi diri,” tambah Robik.

Fenomena Solo Table Theory menunjukkan adanya perubahan cara pandang generasi muda terhadap relasi sosial dan kebahagiaan. Menikmati waktu seorang diri kini tidak lagi selalu dipandang sebagai sesuatu yang negatif, melainkan dapat menjadi bentuk kemandirian emosional dan kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....