Alasan Mengapa Lelaki Sulit Bercerita

  • 13 Mei 2026 12:46 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Media sosial belakangan diramaikan dengan tagar “lelaki tidak bercerita, tiba-tiba …” yang menggambarkan sosok pria memendam masalah hingga akhirnya mengalami tekanan berat, bahkan perubahan drastis dalam hidupnya. Fenomena ini memunculkan kembali pembahasan lama mengenai konstruksi sosial terhadap laki-laki yang dianggap harus kuat, tegar, dan tidak menunjukkan emosi.

Sejak kecil, banyak laki-laki tumbuh dengan ungkapan seperti “anak laki-laki tidak boleh menangis” atau “lelaki harus kuat”. Secara tidak langsung, hal tersebut membentuk pandangan bahwa mengeluh, menangis, atau menunjukkan kesedihan merupakan hal yang identik dengan perempuan. Akibatnya, banyak laki-laki memilih memendam persoalan dibanding menceritakannya kepada orang lain.

Psikolog sekaligus pendiri Psikologianak.id, Robik Anwar Dani, M.Psi., menjelaskan bahwa hambatan laki-laki dalam bercerita berakar dari norma maskulinitas tradisional yang telah tertanam sejak usia dini.

“Secara psikologis, hambatan ini sering berakar dari norma maskulinitas tradisional. Sejak usia dini, laki-laki didorong untuk menjadi figur yang mandiri dan pantang menyerah. Mengapa? Ya karena lelaki memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari perempuan,” kata Robik, yang juga dosen Psikologi di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Madiun, Selasa 12 Mei 2026.

Menurutnya, norma maskulinitas tradisional menekankan kontrol emosi dan kemandirian secara ekstrem. Kondisi tersebut membuat banyak laki-laki enggan membuka diri dan lebih memilih menyimpan masalahnya sendiri.

Akibatnya, tidak sedikit laki-laki yang menekan emosinya dalam-dalam karena merasa ekspresi perasaan dianggap memalukan. Selain itu, muncul keyakinan bahwa meminta bantuan merupakan tanda kelemahan. Robik menjelaskan, kebiasaan menahan beban emosional dalam jangka panjang dapat memunculkan berbagai dampak negatif, baik secara psikologis maupun fisik.

“Yang pertama stagnasi emosional, yaitu perasaan bahwa hidup tidak berkembang atau tidak bermakna. Kedua akan muncul masalah psikosomatik, yakni tekanan mental yang bermanifestasi menjadi gangguan kesehatan fisik. Dan selanjutnya isolasi sosial, yaitu menarik diri dari relasi karena merasa tidak ada yang bisa memahami bebannya,” jelasnya.

Fenomena “lelaki tidak bercerita” dinilai menjadi pengingat bahwa kesehatan mental bukan hanya isu perempuan, tetapi juga laki-laki. Di tengah tuntutan sosial untuk selalu terlihat kuat, ruang aman untuk bercerita dan mengekspresikan emosi menjadi hal penting agar laki-laki tidak terus memendam tekanan sendirian.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....