Kalah Pamor, Lahan Kedelai Lokal di Magetan Terus Menyusut

  • 21 Mei 2026 15:44 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Magetan - Ketergantungan pedagang terhadap kedelai impor di Kabupaten Magetan semakin tinggi seiring menurunnya produksi kedelai lokal dalam beberapa tahun terakhir. Minimnya pasokan dari petani membuat stok kedelai lokal di sejumlah pasar tradisional kini semakin sulit ditemukan.

Salah satu pedagang kedelai di Pasar Sayur Magetan, Galih, mengaku sudah beberapa bulan terakhir tidak mendapatkan pasokan kedelai lokal. Menurutnya, jika pun tersedia, stok kedelai lokal hanya muncul pada musim tertentu dan jumlahnya sangat terbatas.

“Sekarang lebih banyak pakai kedelai impor untuk kebutuhan tahu dan tempe karena stoknya stabil. Harga kedelai impor saat ini sekitar Rp11 ribu per kilogram, sebelumnya Rp10.200. Kalau kedelai lokal biasanya lebih mahal dan hanya ada setahun sekali,” ujarnya.

Galih mengatakan, kedelai lokal umumnya hanya dimanfaatkan untuk bahan pembuatan kecambah atau tauge. Sementara pelaku usaha tahu dan tempe lebih memilih kedelai impor karena pasokan lebih mudah diperoleh sepanjang tahun.

Menurunnya keberadaan kedelai lokal tersebut sejalan dengan terus menyusutnya luas tanam kedelai di Magetan. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Magetan mencatat luas lahan kedelai pada 2025 tinggal sekitar 214 hektare yang tersebar di lima kecamatan, di antaranya Kecamatan Barat dan Kartoharjo.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Magetan, Romandhon, menjelaskan penurunan tanaman palawija, khususnya kedelai, mulai terjadi sejak 2022. Kondisi itu dipicu tidak adanya lagi program maupun dukungan anggaran pemerintah daerah untuk pengembangan tanaman palawija.

Menurutnya, kebijakan pertanian saat ini lebih diarahkan pada peningkatan produksi padi untuk mendukung program swasembada pangan nasional. Salah satu program yang dijalankan yakni peningkatan indeks pertanaman melalui pola tanam IP 400 atau empat kali tanam dalam setahun.

“Program palawija seperti kedelai sudah tidak masuk kegiatan APBD sejak 2022. Fokus pemerintah sekarang percepatan swasembada pangan melalui tanaman padi,” kata Romandhon, Kamis (21/5/2026).

Selain minim dukungan program, rendahnya harga jual kedelai juga menjadi alasan petani mulai meninggalkan komoditas tersebut. Dalam satu hektare lahan, produksi kedelai rata-rata hanya berkisar 1,6 ton hingga 2,6 ton. Sementara harga jual di tingkat petani pada 2022 hanya sekitar Rp7 ribu per kilogram.

“Kalau dibandingkan padi, petani tentu lebih memilih menanam padi karena hasilnya lebih menguntungkan. Apalagi harga gabah sekarang cukup bagus,” tambahnya.

Selain kedelai, petani di beberapa wilayah Magetan masih menanam kacang tanah dan kacang hijau. Namun luas lahannya terbatas dan umumnya hanya ditanam sekali dalam setahun, yakni pada musim kemarau antara Juni hingga Agustus.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....