Ibadah Kurban: Sejarah dan Esensinya
- 10 Mei 2026 11:30 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Terdapat salah satu amalan sunah yang dianjurkan setiap bulan Zulhijah, yakni ibadah kurban. Berkurban tentunya bukan hanya sekedar rutinitas setiap tahun melainkan sebuah bentuk bukti yang sesungguhnya dan nyata akan cinta seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Dalam kajian pagi di Pro 1 RRI Maidun, Ustaz Shofar, S.Pd.I., S.M., menjelaskan tentang makna berkurban yang lebih dalam dan bagaimana awal kisahnya bahkan sebelum kemegahan maupu kemewahan yanga da saat ini.
“Berkurban tentu merupakan bukti kepatuhan dan ketulusan pengabdian dari hamba terhadap Allah SWT.,” Ucap Ustaz Shofar.
Lebih lanjut, dalam berkurban juga harus didasari yang pertama adalah takwa seseorang kepada Allah.
"Jadi bukan berapa mahal hewan kurban yang kita beli, atau berapa besar hewan kurban yang kita korbankan, dan juga bukan berapa banyak dagingnya yang dihasilkan dari hewan kurban,”jelas Shofar kepada RRI Madiun.
Ibadah kurban sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS, sebelum akhirnya disempurnakan pada masa Nabi Ibrahim AS. Allah SWT, berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 27 yang mengisahkan dua orang putra Nabi Adam AS, yakni Habil dan Qabil yang sama- sama melakukan kurban.
وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱبْنَىْ ءَادَمَ بِٱلْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ ٱلْءَاخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ
watlu ‘alaihim naba'abnai âdama bil-ḫaqq, idz qarrabâ qurbânan fa tuqubbila min aḫadihimâ wa lam yutaqabbal minal-âkhar, qâla la'aqtulannak, qâla innamâ yataqabbalullâhu minal-muttaqîn
Artinya: Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”
Selanjutnya Allah menjelaskan dalam QS. Al-Hajj Ayat 37:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ
“Lay yanālallāha luḥụmuhā wa lā dimā`uhā wa lākiy yanāluhut-taqwā mingkum”
Artinya: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya."
Melalui ayat tersebut menegaskan bahwa ketulusan cinta dan ketaqwaan kita kepada Allah dalam berkurban itulah yang akan diterima oleh Allah SWT.
"Oleh karena itu, langkah pertama kita awali untuk berkorban adalah dengan ketulusan dan keikhlasan untuk menggapai rida Allah," ungkapnya.
Kisah berikutnya adalah Nabi Ibrahim AS yang merupakan sosok sangat dermawan dalam berkurban. Diriwayatkan bahwa berkurban hingga ribuan ekor ternak setiap tahunnya, yang membuat manusia dan malaikat kagum.
Baginya, harta tidaklah bernilai jika dibandingkan dengan kedekatan kepada Allah. Bahkan, sebelum Nabi Ismail AS lahir, beliau pernah berjanji bahwa akan rela mengorbankan anak jika itu menjadi jalan untuk bertaqarrub kepada Allah.
Janji inilah yang kemudian diuji oleh Allah melalui perintah menyembelih Nabi Ismail AS.
Kemudian berlanjutl pada kisah kepada Nabi Muhammad SAW yang kemudian kurban ini menjadi sunah muakkad, sunah yang sangat dianjurkan kepada umatnya.
“Apabila setiap jiwa tidak mampu dengan satu kambing untuk dikurbankan, maka dalam satu keluarga paling tidak satu kambing dikurbankan sebagai sunah kifayah,” kata Shofar lebih lanjut.
“Namun jika setiap orang dalam satu keluarga mampu satu kambing atau tujuh orang dengan satu sapi, maka sangat dianjurkan untuk dapat berkorban di setiap tahunnya,” tambahnya.
Maka perlu kita diketahui bahwa kurban bukan seumur hidup sekali, tapi setiap tahun di bulan Zulhijah pada tanggal 10 sampai 13. Rasulullah mengingatkan betapa mulianya kurban ini, dan menjadi sunah yang sangat dianjurkan.
"Berkurban akan semakin meningkatkan ketaqwaan kita kepada AllAH SWT, dan banyak kebaikan yang akan dilipatgandakan maupun dosa- dosa baik pada masa lampau dan kini yang Allah akan maafkan," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....