Leptospirosis Muncul Lagi di Magetan, Ini Penjelasan Dinkes
- 01 Mei 2026 00:35 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Magetan - Kasus leptospirosis atau penyakit yang disebabkan kencing tikus kembali mumcul di Magetan setelah terakhir kali dilaporkan pada 2017 silam. Dalam dua bulan terakhir, terdapat dua kasus yang melibatkan warga Magetan, dengan satu di antaranya meninggal dunia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Magetan, Suwantiyo, mengatakan kasus pertama dilaporkan pada 24 Maret 2026. Seorang warga Magetan dinyatakan positif leptospirosis saat dirawat di Rumah Sakit Muhammadiyah Ponorogo dan meninggal dunia.
“Kasus kedua dilaporkan pada 4 April dari RSUD Aisyiyah Ponorogo. Pasien juga warga Magetan, namun setelah mendapatkan perawatan, kondisinya membaik dan dinyatakan sembuh,” ujar Suwantiyo, Kamis (30/4/2026).
Selain itu, terdapat satu kasus lain dari warga Kabupaten Pacitan yang bekerja di Magetan. Pasien tersebut didiagnosis leptospirosis setelah kembali ke daerah asalnya.
Suwantiyo menjelaskan, leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira yang umumnya ditularkan melalui urine hewan, terutama tikus. Penularan terjadi ketika manusia kontak dengan air atau lingkungan yang terkontaminasi, terutama jika terdapat luka terbuka pada tubuh.
“Penyakit ini sering dikaitkan dengan kondisi lingkungan yang kurang bersih. Bakteri bisa masuk melalui luka di kulit, atau dari makanan dan minuman yang terkontaminasi,” jelasnya.
Menurutnya, selain tikus, hewan lain seperti sapi, kambing, dan anjing juga dapat menjadi sumber penularan jika terinfeksi.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Magetan meningkatkan upaya edukasi kepada masyarakat, khususnya di wilayah yang ditemukan kasus. Edukasi dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari petugas kesehatan, pemerintah kecamatan, hingga kelompok petani dan peternak.
Selain itu, pengendalian populasi tikus menjadi perhatian utama, terutama di area persawahan. Salah satu upaya yang didorong adalah pemanfaatan predator alami seperti burung hantu.
“Kami mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan serta mengendalikan hama tikus. Dengan begitu, risiko penularan leptospirosis dapat ditekan,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....