Cuaca Madiun Raya 25-27 Agustus 2026, Cerah-Cerah Berawan, Udara Kabur di Pagi Hari.
- 25 Agt 2026 12:08 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Prospek cuaca wilayah Madiun Raya 25-27 Agustus 2026 didominasi kondisi cerah hingga cerah berawan dan udara kabur di pagi hari. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nganjuk merilis, pada pagi hari, cuaca cerah hingga cerah berawan dengan Udara kabur berpotensi muncul secara lokal di Ponorogo, Pacitan, dan dataran tinggi Magetan menjelang pagi, akibat kelembapan yang masih tinggi. Suhu udara berkisar 18–25°C, Kelembapan udara sekitar 75–95%. Sementara itu, angin umumnya tenang hingga sedang dari arah Timur–Tenggara dengan kecepatan sekitar 5–15 km/jam. Siang hari, cuaca sangat terik dan panas menyengat, dengan langit didominasi kondisi cerah dan minim awan hujan. Suhu udara maksimum berkisar 32–35°C, dengan suhu tertinggi berpotensi terjadi di dataran rendah seperti Madiun dan Ngawi (34–35°C), sementara wilayah kaki Gunung Lawu dan pesisir Pacitan relatif lebih rendah (31–33°C). Kelembapan udara turun signifikan hingga 40–50%, sehingga udara terasa kering dan gersang. Angin bertiup dari arah Timur–Tenggara juga cenderung menguat dengan kecepatan sekitar 15–25 km/jam. Kemudian malam hingga dini hari, Cuaca cerah tanpa awan signifikan. Suhu udara kembali turun ke kisaran 17–22°C, dengan kondisi paling dingin terjadi di dataran tinggi Magetan dan lereng Gunung Lawu yang dapat mencapai 17–18°C, sedangkan dataran rendah Madiun, Ngawi, dan Ponorogo berada sekitar 20–22°C. Kelembapan udara meningkat kembali hingga 80–95% sementara itu, angin melemah bertiup tenang dari Timur–Tenggara dengan kecepatan sekitar 5–15 km/jam. Pengamat Meteorologi dan Geofisikan BMKG Nganjuk Setiyaris mengungkapkan, kondisi cuaca di wilayah Madiun Raya dan umumnya di Jawa Timur dipengaruhi oleh El Niño kategori sangat kuat dan IOD positif, yang menyebabkan suplai uap air berkurang.
”Berdasarkan perkembangan kondisi iklim terkini, kondisi kering di Jawa Timur semakin kuat dipengaruhi oleh El Niño kategori sangat kuat dan IOD positif, yang menyebabkan suplai uap air ke wilayah Indonesia berkurang. Kondisi tersebut diperkuat oleh menguatnya Monsun Australia yang membawa massa udara relatif kering dari Australia menuju wilayah Jawa, sehingga pertumbuhan awan dan hujan semakin terbatas,” ungkap Setiyaris, Selasa 25 Agustus 2026.
Hal ini sejalan dengan kondisi Dasarian II Agustus 2026, ketika sebagian besar wilayah Jawa Timur mengalami curah hujan rendah dengan sifat hujan di bawah normal, sehingga musim kemarau semakin meluas dan berpotensi meningkatkan HTH panjang, kekeringan, serta risiko kebakaran hutan dan lahan. Setiyaris menghimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrem khas puncak musim kemarau dengan menjaga kondisi tubuh, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari yang terik. Warga juga disarankan menyiapkan pakaian hangat atau jaket untuk mengantisipasi suhu yang cukup dingin pada malam hingga dini hari, khususnya di wilayah dataran tinggi. Selain itu, hindari pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan, karena kondisi lahan yang kering dan angin timuran yang menguat dapat menyebabkan api mudah menyebar dan meningkatkan risiko karhutla. (Shabrina}.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....