Prosesi Hari Jadi Pacitan Dikemas Lebih Singkat, Bernuansa Budaya

  • 20 Feb 2026 13:38 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Pacitan - Prosesi perayaan Hari Jadi Pacitan yang ke-281 digelar lebih singkat daripada tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, prosesi perayaan Hari Jadi Pacitan mengadakan upacara adat Tirta Wening dan tradisi Rucuh Pace.

Menanggapi prosesi yang lebih singkat, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, Munirul Ichwan menampik bahwa Pemkab Pacitan meniadakan tradisi. Ia menegaskan, prosesi tahun ini hanya lebih sederhana dan dikemas dengan nuansa budaya.

“Karena ini puasa, jadi rucuh pace itu tidak dilaksanakan tahun ini,” ungkap Munirul Ichwan. “Dan insya Allah, 2-3 tahun ke depan, momentumnya bertepatan dengan puasa,” imbuhnya.

Munirul menerangkan, salah satu prosesi rucuh pace adalah meminum minuman olahan dari buah pace. Oleh sebab itu, prosesi ini tidak dilakukan karena berada di bulan puasa.

Sebagai informasi, prosesi rucuh pace adalah tradisi di mana bupati pacitan, tamu undangan, bahkan warga yang menyaksikan prosesi Hari Jadi Pacitan, akan meminum minuman olahan buah Pace yang berasal dari Desa Nanggungan, Kecamatan Pacitan. Menurut catatan, buah pace merupakan cikal bakal penamaan Pacitan.

Sementara upacara Tirta Wening adalah upacara adat mengambil air dari sumur peninggalan Tumenggung Notopuro di Desa Sukoharjo yang menjadi bupati pertama Pacitan. Namun, meski ada beberapa tradisi yang tidak digelar pada prosesi tahun ini, Munirul menilai, tidak menurunkan makna perayaan Hari Jadi Pacitan yang ke-281.

“Peringatan hari jadi ini adalah bentuk rasa syukur bagi pemerintah dan masyarakat Kabupaten Pacitan. Harapan ke depan, tentu semoga kita lebih bahagia dan sejahtera, sesuai dengan yang dicita-citakan masyarakat Pacitan,” pungkas Munirul.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....