Ramadan, Saatnya Menyehatkan Tubuh dan Jiwa
- 28 Feb 2026 20:48 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Bulan Ramadhan bukan sekadar momentum ritual tahunan, tetapi menjadi sarana pendidikan rohani sekaligus pembinaan jasmani yang terintegrasi. Hal tersebut disampaikan Ustadz Dr. Agus Tricahyo, M.A dalam acara takjil Tanya Jawab Islami Programa 1 RRI Madiun dengan tema Ramadan Saatnya Menyehatkan Tubuh dan Jiwa.
Menurutnya Ustadz Agus, Ramadhan tidak hanya berdimensi ibadah spiritual dan sosial, tetapi juga memiliki implikasi besar terhadap kesehatan fisik, stabilitas psikologis, dan keseimbangan kehidupan secara menyeluruh. “Ramadan itu bukan sekadar kegiatan ibadah ritual tahunan. Ia adalah sistem pendidikan rohani dan pembinaan jasmani yang terintegrasi. Tidak hanya berdimensi spiritual dan sosial, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik dan stabilitas psikologi,” jelasnya.
Ustadz Agus mengutip Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban berpuasa, yang menegaskan tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. “Allah berfirman, la’allakum tattaqun, supaya kalian menjadi orang yang bertakwa. Artinya, dengan puasa seseorang menjadi takut melakukan apa yang Allah haramkan dan terdorong menjalankan apa yang Allah perintahkan,” ujarnya.
Mengacu pada penafsiran ulama, Ustadz Agus menjelaskan bahwa ketakwaan yang lahir dari puasa akan membentengi seseorang dari perilaku maksiat. Puasa melatih pengendalian diri, baik secara lahir maupun batin. “Dengan berpuasa, orang menjadi lebih hati-hati. Ia khawatir melanggar larangan Allah. Di situlah fungsi pendidikan dari Ramadan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ustadz Agus menekankan bahwa Ramadan adalah momentum memperbanyak kebaikan, seperti membaca Al-Qur’an, salat tarawih, qiyamullail, dan berbagai ibadah lainnya. “Ramadan itu momentum. Kalau di bulan ini saja kita tidak bisa khatam Al-Qur’an, akan terasa lebih berat melakukannya di bulan lain. Minimal target satu juz sehari,” katanya.
Dari sisi kesehatan fisik, Ustadz Agus mengingatkan bahwa tubuh memiliki hak yang harus dipenuhi. Puasa menjadi sarana istirahat alami bagi tubuh setelah sebelas bulan bekerja tanpa henti. “Nabi bersabda, inna li jasadika ‘alaika haqqan, jasadmu punya hak atas dirimu. Termasuk hak untuk beristirahat. Puasa adalah momen detoksifikasi alami dan menjaga stamina,” terangnya.
Ustadz Agus juga menjelaskan bahwa menjaga kesehatan, termasuk berolahraga dengan niat yang benar, dapat bernilai ibadah. “Memperhatikan hak jasad itu bagian dari ibadah. Orang yang olahraga dengan niat menjaga kesehatan agar bisa beribadah dengan baik, itu juga ibadah,” jelasnya.
Sementara itu, dari sisi kesehatan jiwa, Ustadz Agus mengutip hadis Nabi yang menyebut puasa sebagai tameng. “As-shiyamu junnah, puasa itu tameng. Tameng dari maksiat. Ketika orang mampu mengendalikan diri dari kemaksiatan, di situlah muncul kesehatan jiwa,” ungkapnya.
Ustadz Agus menambahkan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah kebahagiaan yang diwujudkan melalui pelanggaran, melainkan melalui kesederhanaan dan kedekatan dengan Allah SWT. “Jangan sampai orang merasa bahagia hanya ketika bermaksiat. Puasa menjadi benteng agar kebahagiaan itu lahir dari hal-hal yang halal dan penuh keberkahan,” tegasnya.
Ramadan juga menjadi momentum memperbanyak zikir dan tilawah Al-Qur’an yang berdampak pada ketenangan hati. “Allah berfirman, ala bidzikrillahi tathma’innul qulub, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Salah satunya dengan membaca Al-Qur’an. Di situlah jiwa menemukan ketenangan,” pungkasnya. Melalui Ramadan, umat Islam diajak menyeimbangkan kehidupan sehat secara fisik, stabil secara emosional, dan kuat secara spiritual sehingga mampu meraih derajat takwa yang menjadi tujuan utama ibadah puasa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....