Huzarensla, Salad Warisan Belanda yang Menjadi Bagian dari Kuliner Indonesia

  • 30 Sep 2026 19:59 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Huzarensla mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi makanan ini memiliki jejak cukup panjang dalam sejarah kuliner Indonesia. Huzarensla merupakan salad yang berkembang dalam tradisi kuliner Belanda dan kemudian dikenal di Indonesia melalui hubungan sejarah antara Belanda dan Nusantara.

Penelitian dalam jurnal LingTera Universitas Negeri Yogyakarta mencatat huzarensla sebagai salah satu nama makanan asal Belanda yang mengalami adaptasi di Indonesia.

Dalam perkembangannya di Indonesia, huzarensla mengalami penyesuaian bahan. Salah satu kajian mencatat versi yang berkembang di Indonesia menggunakan kentang, tomat, apel, melon dan nanas yang dipotong dadu. Saus mayones kemudian memberikan rasa gurih dan lembut pada campuran bahan tersebut. Perubahan komposisi ini menunjukkan bagaimana makanan dari luar dapat beradaptasi dengan bahan dan selera masyarakat setempat.

Menariknya, asal-usul nama huzarensla sendiri ternyata tidak sesederhana anggapan bahwa makanan tersebut merupakan santapan para prajurit huzar. Kajian etimologi yang diterbitkan oleh Nicoline van der Sijs mencatat bahwa istilah huzarensalade sudah ditemukan dalam surat kabar Belanda sejak 1844.

Sementara itu, kisah tentang chef Lucien Olivier di Moskow yang menciptakan salad mewah pada sekitar abad ke-19 berkaitan dengan sejarah Russian salad, tetapi belum cukup untuk menjelaskan asal nama huzarensla.

Bahkan, sumber tersebut menunjukkan kemungkinan bahwa huzarensla Belanda pada awalnya merupakan salad berbahan daging sebagai pengganti hidangan berbahan ikan. Resep dari awal abad ke-20 menyebut penggunaan daging sebagai pengganti ikan, sementara dalam perkembangannya bahan dan cara penyajiannya berubah.

Karena itu, hubungan langsung antara huzarensla dan makanan yang dibawa prajurit huzar lebih tepat disebut sebagai salah satu cerita yang berkembang, bukan fakta sejarah yang sudah pasti.

Di Indonesia, huzarensla kemudian hadir dalam berbagai bentuk penyajian. Ada yang menggunakan nanas, timun, apel, daging sapi asap dan tomat, kemudian disajikan dengan saus berbahan kuning telur, minyak, lemon, mustard dan gula. Variasi tersebut memperlihatkan bahwa huzarensla tidak memiliki satu komposisi yang sepenuhnya seragam.

Keberadaan huzarensla menjadi contoh menarik bagaimana perjalanan sejarah turut memengaruhi perkembangan makanan di Indonesia. Dari hidangan yang memiliki akar dalam tradisi kuliner Belanda, huzarensla beradaptasi dengan bahan dan selera lokal hingga memiliki versi yang dikenal masyarakat Indonesia.

Makanan ini pun menjadi salah satu bukti bahwa warisan kuliner tidak selalu berhenti pada bentuk aslinya, tetapi dapat berubah mengikuti tempat, zaman dan budaya masyarakat yang menerimanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....