Tak Hanya Kontak Erat, Kondisi Ini Bikin Anak Lebih Rentan Terjangkit TBC

  • 05 Okt 2026 16:26 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Tuberkulosis (TBC) pada anak kerap kali sulit terdeteksi sejak awal karena tidak selalu menunjukkan gejala umum seperti batuk atau demam tinggi. Meski demikian, ada sejumlah tanda khas serta faktor kerentanan yang perlu dipahami oleh para orang tua.

Dokter Puskesmas Mejayan Kabupaten Madiun, dr. Khoirun Nisa', menjelaskan indikasi utama TBC pada anak justru paling sering terlihat dari tumbuh kembangnya. Berat badan dan tinggi badan anak yang stagnan atau tidak kunjung naik sesuai grafik pertumbuhan menjadi sinyal kuat yang harus dicermati.

"Sebagian besar TBC pada anak itu tidak ada gejala akut, bahkan tidak batuk dan tidak demam. Namun, kami dari tenaga medis dapat melihatnya saat pemeriksaan, misalnya berat badan atau tinggi badannya kurang," ujar dr. Khoiru Nisa saat menjadi narasumber dalam program Dialog AE Raya Menyapa di RRI Madiun.

dr. Nisa' membeberkan tidak semua anak memiliki daya tahan yang sama terhadap paparan kuman TBC. Ada beberapa kondisi yang membuat seorang anak lebih rentan tertular infeksi ini.

Seperti anak dengan kondisi gizi kurang atau gizi buruk rentan karena daya tahan tubuhnya yang lemah. Selain masalah nutrisi, riwayat penyakit berulang dan hemoglobin yang rendah juga meningkatkan risiko penularan.

"Anak yang sebelumnya sering mengalami infeksi seperti batuk-pilek berulang atau memiliki kadar hemoglobin (Hb) rendah juga sangat rentan. Kadar Hb yang rendah mengindikasikan kondisi tubuh yang kurang optimal, sehingga daya tahan tubuh menurun dan kuman TBC lebih mudah masuk," terangnya.

dr. Nisa' menambahkan faktor lingkungan dan interaksi sosial turut memegang peranan penting. Anak yang tinggal serumah atau sering berinteraksi dengan penderita TBC aktif, baik anggota keluarga maupun tetangga sekitar, memiliki risiko penularan yang tinggi melalui droplet (cipratan air liur).

Menghadapi risiko tersebut, dr. Nisa' mengimbau para orang tua untuk lebih peka dalam memantau kesehatan fisik dan lingkungan tumbuh kembang anak. Namun, ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak panik atau takut berlebihan terhadap penyakit TBC.

Ia menyebut pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menggalakkan gerakan TOSS TBC (Temukan, Obati Sampai Sembuh) sebagai langkah penanggulangan nasional.

Gerakan ini mengajak para orang tua untuk aktif memeriksakan anak ke fasyankes apabila menemukan gejala seperti batuk kronis atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Selain itu, dr. Nisa' menegaskan pentingnya komitmen orang tua dalam mendampingi pengobatan anak yang terdiagnosis TBC.

Pengobatan harus dilakukan secara tuntas dan tidak boleh terputus agar anak dapat pulih sepenuhnya dan tumbuh kembangnya kembali optimal.

"Gerakan nasional dari Kemenkes ini mengajak orang tua untuk segera memeriksakan anak apabila yang pertama ada yang batuk kronis, berat badan turun tanpa sebab, bahkan memastikan apabila ada anak dengan positif TBC pengobatannya dilakukan secara tuntas dan tidak terputus," pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....