Waspada Penyakit Jantun, Kenali Faktor Risiko dan Deteksi Dini
- 29 Sep 2026 20:29 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Penyakit kardiovaskular atau gangguan jantung dan pembuluh darah hingga kini masih memegang predikat sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi di tingkat global. Bahkan satu dari tiga kasus kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskular.
Dalam program acara Indonesia Sehat, di RRI Madiun, dr. Deasy Eka Wardhani, Sp.JP, FIHA dari IDI Madiun, memaparkan terkait fatalitas akibat penyakit jantung tersebut.
“Jadi memang penyakit jantung itu adalah salah satu penyakit yang paling mematikan di seluruh dunia. Satu dari tiga orang yang meninggal itu karena penyakit kardiovaskular atau penyakit jantung pembuluh darah dan bahkan setiap tahunnya itu, 19 juta kematian disebabkan oleh penyakit jantung,” ujarnya, kemarin.
Kendati demikian, dr. Deasy menyoroti tingkat kesadaran atau awareness masyarakat untuk melakukan deteksi dini yang dinilai masih tergolong minim. Berdasarkan pengamatan dr. Deasy dalam praktik klinis hariannya, proporsi kesadaran warga baru berada di kisaran 50 dibanding 50.
Dampaknya, sebagian besar penderita, terutama dari kelompok lanjut usia yang baru datang berkonsultasi ke fasilitas kesehatan saat kondisi penyakit sudah terlanjur memasuki fase lanjut.
Skrining sejak dini jauh lebih disarankan ketimbang menanti hingga gejala yang dirasakan semakin memburuk.
"Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali berbagai faktor risiko guna meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah pencegahan sedini mungkin," terangnya.
Secara umum, faktor risiko penyakit jantung dapat dibagi menjadi beberapa kategori utama, mulai dari gaya hidup hingga faktor alamiah yang tidak dapat diubah
1. Gaya Hidup dan Kebiasaan Sehari-hari
Sebagian besar faktor risiko penyakit kardiovaskular berkaitan erat dengan kebiasaan hidup sehari-hari. Berita baiknya, faktor-faktor ini merupakan hal yang dapat diubah atau dikendalikan seperti:
Kebiasaan Merokok. Merokok merupakan salah satu pemicu utama kerusakan dinding pembuluh darah dan penyempitan arteri.
Kurang Aktivitas Fisik. Gaya hidup kurang gerak atau cenderung "mager" (malas gerak) serta jarang berolahraga secara rutin dapat menurunkan kesehatan kardiovaskular.
Berat Badan Berlebih (Overweight & Obesitas). Berat badan yang melebihi batas ideal memberikan beban kerja ekstra pada jantung dan memicu gangguan metabolik lainnya.
2. Kondisi Medis dan Kesehatan Metabolik
Ada beberapa kondisi medis yang secara langsung meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit jantung:
Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi). Tekanan darah yang tidak terkontrol dapat merusak elastisitas pembuluh darah dan memaksa jantung bekerja lebih keras.
Diabetes Melitus (Penyakit Gula). Kadar gula darah yang tinggi secara kronis dapat merusak pembuluh darah dan saraf yang mengontrol jantung.
Dislipidemia (Kadar Lemak Tinggi). Tingginya kadar kolesterol jahat (LDL) atau trigliserida dalam darah dapat menyebabkan penumpukan plak pada dinding arteri.
3. Faktor Alamiah dan Usia
Selain gaya hidup, terdapat aspek alamiah yang secara perlahan meningkatkan risiko seiring bertambahnya waktu:
Usia. Secara alami, risiko penyakit jantung meningkat seiring bertambahnya usia.
Pria berusia di atas 40–45 tahun memiliki kecenderungan risiko yang perlu mulai diwaspadai secara rutin.
Wanita pasca Menopause. Wanita yang sudah memasuki masa menopause mengalami penurunan hormon estrogen, yang sebelumnya berfungsi memberikan perlindungan alami pada pembuluh darah.
4. Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga
Seseorang yang memiliki riwayat penyakit jantung pada anggota keluarga sedarah (blood-related) seperti orang tua (ayah/ibu), kakek, nenek, atau paman dan bibi memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga. Jika kedua orang tua sama-sama memiliki riwayat penyakit kardiovaskular, tingkat kewaspadaan anak-anaknya harus ditingkatkan sejak dini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....