Kontras Sikapi Kesehatan Jantung: Anak Muda Cemas Berlebih, Lansia Takut Berobat

  • 30 Sep 2026 05:41 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Dalam peringatan Hari Jantung Sedunia 2026, terdapat dua fenomena psikologis yang saling bertolak belakang atau kontar di tengah masyarakat. Hal ini disoroti oleh dr. Deasy Eka Wardhani, Sp.JP, FIHA dari IDI Madiun, terkait sikap kontras antara kelompok dewasa muda dengan kelompok lanjut usia (lansia).

Kecemasan berlebih atau overthinking sering kali membayangi kelompok muda dewasa. Hal ini jelas dr. Deasy lebih lanjut akibat dari self diagnose setelah mencari informasi secara mandiri di internet.

“Jadi banyak anak muda mendatangi saya sebagai dokter spesialis jantung dengan kondisi yang sudah overthinking usai scrolling atau mencari informasi sendiri di internet. Gejala umum seperti nyeri dada, sesak napas singkat, dan sensasi jantung berdebar sering kali langsung dianggap sebagai tanda serangan jantung yang mematikan,” tuturnya kepada RRI Madiun, belum lama ini.

Sementara itu, sikap tersebut sangat kontras dengan kelompok lanjut usia atau lansia. Meskipun juga sama ada ketakutan berlebih atau overthinking, namun kelompok lansia juga tidak mau berobat, karena takut menghadapi vonis medis.

Alhasil, sering kali, kelompok lansia ketika datang ke dokter jantung sudah pada kondisi yang berat, sehingga penanganannya akan semakin kompleks. Sedangkan pada kelompok muda dewasa, meskipun overthinking berlebih tidak baik, akan tetapi kesadaran untuk mencari tahu dan berkonsultasi sudah mulai lebih menjadi perhatian sejak dini.

Menanggapi fenomena tersebut juga dr. Deasy memaparkan bahwa sebagian besar keluhan nyeri dada pada pasien usia muda tidak selalu dipicu oleh kerusakan pembuluh darah koroner.

"Rata-rata keluhan nyeri dada pada usia muda bisa jadi disebabkan oleh muskuloskeletal atau nyeri otot,” jelasnya.

Hal tersebut bisa diakibatkan karena kelelahan dan salah posisi tubuh, serta gangguan pada pencernaan seperti peningkatan asam lambung.

Namun dr. Deasy juga mengingatkan bahwa kewaspadaan terhadap kesehatan merupakan hal yang positif, tetapi kecenderungan menduga-duga secara berlebihan justru berpotensi memicu stres baru yang berdampak buruk bagi kondisi fisik.

Ia menyarankan agar masyarakat yang mengalami keluhan atau gejala seperti nyeri dada, sesak napas singkat, dan sensasi sakit bagian dada yang menembus ke bagian belakang tidak langsung mengambil kesimpulan sendiri secara sepihak. Penting untuk menjalankan terlebih dahulu pemeriksaan ke dokter maupun fasilitas kesehatan.

Guna mengetahui kondisi kesehatan organ pemompa darah tersebut secara pasti, dokter dapat akan melakukan serangkaian prosedur tes sesuai standar yang berlaku. Pemeriksaan tersebut mencakup Rekam Jantung (EKG), Rontgen dada, Echocardiography (USG jantung), hingga treadmill test.

Dalam program Indonesia Sehat, dr. Deasy juga menekankan bahwa terdiagnosis penyakit jantung bukanlah akhir dari produktivitas maupun pembatasan total atas seluruh aktivitas harian. Pasien dengan riwayat kardiovaskular tetap memiliki kesempatan untuk aktif bekerja, berolahraga ringan, bahkan melakukan perjalanan wisata selama mematuhi panduan terapi medis secara konsisten.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....