Anak Beranjak Dewasa Sering Jadi PR Orang Tua, Psikolog Ingatkan Pola Komunikasi
- 30 Jun 2026 19:52 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Fase transisi ketika anak beranjak menuju usia dewasa awal (emerging adulthood) sering kali menjadi tantangan besar bagi para orang tua. Ketegangan atau konflik "dar der dor" biasanya mulai bermunculan pada periode ini jika orang tua tidak siap beradaptasi.
Menurut Psikolog sekaligus Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Kota Madiun, Robik Anwar Dhani, M.Psi., Psikologi., hubungan yang semula searah dituntut untuk berubah demi menjaga keharmonisan di dalam keluarga. “Fase menuju dewasa awal ini memang kerap kali menjadi pekerjaan rumah (PR) yang berat bagi orang tua. Dinamika emosi dan perubahan karakter anak di usia ini menuntut orang tua untuk tidak lagi menggunakan pola asuh lama,” ucap Psikolog Robik.
| Baca juga: Waspada TBC pada Anak, Kenali Gejalanya |
Salah satu kunci utama guna membina hubungan yang baik adalah dengan mengubah pola komunikasi secara signifikan. Jika selama masa kanak-kanak hingga remaja orang tua terbiasa menggunakan pola komunikasi direktif atau langsung menyuruh, maka pada fase dewasa awal ini, pola tersebut sudah tidak lagi relevan serta efektif maka harus diubah.
"Untuk komunikasi dengan anak-anak yang mulai beranjak dewasa, kita bisa mengubah pola komunikasi dari direktif menuju kolaboratif. Jadi, hindari untuk langsung memberikan solusi saat mereka itu bercerita tentang masalahnya," ujar Robik kepada RRI Madiun.
Selain itu, Robik mengungkapkan bahwa anak-anak yang berada di fase emerging adulthood sering kali bercerita bukan untuk meminta instruksi atau panduan teknis (how to). Pada titik ini, ego dan kedewasaan mereka sedang berkembang, sehingga mereka sebenarnya hanya membutuhkan ruang aman untuk mendapatkan validasi atas apa yang mereka rasakan.
Oleh karena itu, orang tua disarankan untuk menerapkan teknik mendengarkan secara aktif (active listening). Pendekatan kolaboratif ini mengedepankan diskusi dua arah dan empati.
“Dengan mendengarkan secara aktif, dua arah maka komunikasi yang terjalin pun bukan lagi penghakiman atau dikte seperti "kamu harusnya begini" atau "kamu harusnya begitu". Hal ini akan membuat anak merasa lebih dihargai dan didengar,”tegasnya
Melalui perubahan pola komunikasi yang lebih kolaboratif ini, jarak antara orang tua dan anak dapat dipangkas secara perlahan. Robik berharap para orang tua di era modern, khususnya di Kota Madiun, dapat lebih fleksibel dalam menurunkan ego demi membangun jembatan komunikasi yang sehat dengan anak dewasa mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....