Biaya, Trauma, hingga Ekspektasi Tinggi, Ini Alasan Gen Z Takut Menikah

  • 28 Mar 2026 22:13 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Fenomena ketakutan menikah di kalangan generasi Z semakin menjadi perbincangan. Istilah “marriage is scary” kerap muncul di media sosial, mencerminkan kekhawatiran anak muda terhadap komitmen jangka panjang dalam pernikahan.

Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan bahwa ada berbagai faktor yang melatarbelakangi ketakutan tersebut, mulai dari aspek finansial hingga pengalaman emosional.

“Gen Z hidup di tengah realitas yang kompleks. Mereka tidak hanya memikirkan soal cinta, tapi juga kesiapan mental dan kondisi ekonomi,” ujarnya pada Jumat 27 Maret 2026.

Salah satu faktor utama adalah biaya pernikahan yang dinilai semakin tinggi. Mulai dari prosesi hingga kehidupan setelah menikah, semuanya membutuhkan kesiapan finansial yang tidak sedikit.

Selain itu, pengalaman trauma juga berperan besar. Banyak anak muda yang tumbuh dengan melihat konflik rumah tangga, perceraian, atau hubungan yang tidak sehat di sekitarnya.

“Pengalaman tersebut membentuk persepsi bahwa pernikahan bukan sesuatu yang mudah dijalani,” jelas Andi.

Ekspektasi yang tinggi terhadap pernikahan juga menjadi tekanan tersendiri. Gambaran hubungan ideal di media sosial seringkali membuat standar menjadi tidak realistis.

Hal ini membuat sebagian Gen Z merasa belum cukup siap atau takut tidak mampu memenuhi ekspektasi tersebut.

Tak hanya itu, ketakutan terhadap komitmen jangka panjang juga menjadi alasan. Pernikahan dipandang sebagai keputusan besar yang sulit diubah, sehingga memicu kecemasan dalam menentukan pilihan.

Di sisi lain, meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental membuat generasi muda lebih berhati-hati. Mereka cenderung ingin memastikan bahwa hubungan yang dijalani benar-benar sehat sebelum melangkah lebih jauh.

Meski demikian, Andi menegaskan bahwa rasa takut tersebut tidak selalu buruk. Justru, hal itu bisa menjadi bentuk kehati-hatian dalam mengambil keputusan penting dalam hidup.

“Yang perlu dilakukan adalah memahami sumber ketakutan tersebut, bukan menghindarinya sepenuhnya,” tambahnya.

Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa pernikahan bukan sekadar tuntutan sosial, melainkan pilihan yang membutuhkan kesiapan menyeluruh. “Tidak ada waktu yang ideal, yang ada adalah kesiapan yang matang,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....