Ini Alasan Psikologis terkait Fenomena “Marriage Is Scary”
- 28 Mar 2026 22:05 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Istilah “Marriage is scary” semakin sering muncul di kalangan generasi Z dan milenial, terutama di media sosial. Pernikahan yang dulu dianggap sebagai tujuan hidup, kini justru dipandang dengan rasa ragu bahkan takut oleh sebagian anak muda.
Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan bahwa fenomena ini tidak muncul tanpa sebab. Ada sejumlah faktor psikologis yang mempengaruhi cara pandang generasi muda terhadap pernikahan.
“Ketakutan terhadap pernikahan seringkali berkaitan dengan pengalaman masa lalu, baik yang dialami sendiri maupun yang dilihat dari lingkungan sekitar,” ujarnya pada Jumat 27 Maret 2026.
Salah satu faktor utama adalah trauma relasi, seperti melihat konflik orang tua atau hubungan yang tidak sehat. Hal ini membentuk persepsi bahwa pernikahan identik dengan masalah dan tekanan.
Selain itu, ketakutan akan komitmen jangka panjang juga menjadi penyebab. Bagi sebagian Gen Z, pernikahan dianggap sebagai keputusan besar yang sulit untuk diubah, sehingga menimbulkan kecemasan tersendiri.
“Komitmen dalam pernikahan dipandang sebagai sesuatu yang ‘final’, sehingga muncul rasa takut salah memilih pasangan,” jelas Andi.
Faktor lain adalah tekanan sosial dan ekspektasi yang tinggi. Standar pernikahan yang terlihat di media sosial seringkali tidak realistis, sehingga membuat individu merasa belum siap atau tidak cukup baik.
Kondisi ekonomi juga turut memengaruhi. Kekhawatiran terhadap stabilitas finansial menjadi alasan kuat bagi generasi muda untuk menunda atau bahkan takut menikah.
Di sisi lain, meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental membuat Gen Z lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan besar, termasuk pernikahan.
Meski demikian, Andi menegaskan bahwa rasa takut tersebut bukan hal yang sepenuhnya negatif. Justru, hal itu bisa menjadi tanda bahwa individu ingin mempersiapkan diri dengan lebih matang.
“Yang penting adalah memahami sumber ketakutan tersebut, lalu mengelolanya dengan cara yang sehat,” tambahnya.
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa pernikahan bukan sekadar tuntutan sosial, melainkan pilihan hidup yang perlu dipertimbangkan secara sadar. “Tidak perlu terburu-buru, yang terpenting adalah kesiapan secara emosional dan mental,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....