Benarkah Avoidant Style Menjadi Tantangan Baru dalam Hubungan di Era Digital?
- 27 Mar 2026 10:26 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Perkembangan teknologi digital tidak hanya mengubah cara berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi dinamika hubungan interpersonal. Salah satu fenomena yang mulai banyak dibahas adalah avoidant attachment style, yang dinilai menjadi tantangan baru dalam menjalin hubungan di era digital.
Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan bahwa avoidant style merupakan pola keterikatan di mana individu cenderung menghindari kedekatan emosional dan menjaga jarak dalam hubungan.
“Di era digital, pola ini semakin terlihat karena komunikasi bisa dilakukan tanpa harus benar-benar terhubung secara emosional,” ujarnya pada Kamis 26 Maret 2026.
| Baca juga: Benarkah Kopi Susu Picu Asam Lambung? |
Menurutnya, kemudahan teknologi seperti pesan instan dan media sosial membuat seseorang tetap bisa menjalin interaksi tanpa harus membuka diri secara mendalam. Hal ini justru memperkuat kecenderungan menghindar.
Fenomena seperti ghosting, membalas pesan seperlunya, hingga menghindari pembicaraan serius menjadi contoh nyata dari pola avoidant yang muncul dalam hubungan modern.
“Banyak yang terlihat ‘available’ secara online, tapi tidak benar-benar hadir secara emosional,” jelas Andi.
Ia juga menambahkan bahwa budaya digital yang serba cepat membuat sebagian orang merasa tidak perlu berinvestasi terlalu dalam dalam sebuah hubungan. Ketika merasa tidak nyaman, mereka lebih memilih mundur daripada menyelesaikan masalah.
Di sisi lain, individu dengan avoidant style seringkali terlihat mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Namun, di balik itu terdapat ketakutan terhadap kedekatan atau kerentanan emosional.
Hal ini tentu menjadi tantangan dalam hubungan, terutama ketika pasangan memiliki kebutuhan emosional yang berbeda. Ketidakseimbangan ini dapat memicu konflik dan kesalahpahaman.
Meski demikian, Andi menegaskan bahwa kondisi ini bukanlah sesuatu yang tidak bisa diatasi. Kesadaran diri dan komunikasi yang terbuka menjadi kunci utama dalam membangun hubungan yang sehat.
“Era digital memang memberi banyak kemudahan, tapi kualitas hubungan tetap ditentukan oleh bagaimana kita hadir secara emosional,” tambahnya.
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat untuk mendekatkan, bukan justru menjauhkan. “Jangan sampai kita terhubung secara digital, tapi terputus secara emosional,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....