Penyebab Sulit Membuat Batas Sehat dalam Hubungan

  • 12 Feb 2026 14:56 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Setiap menjalin relasi atau hubungan pasti ada batas privasi yang memang harus dipahami, dengan begitu maka menumbuhkan rasa aman dan meningkatkan kepercayaan dalam hubungan itu sendiri. Namun, banyak diantara kita yang merasa sulit dalam menetapkan dan membuat batas sehat dalam sebuah hubungan, lantas faktor apa saja yang menjadi penyebabnya?

Dalam Program Teman Cerita di PRO 1 RRI Madiun, Psikolog sekaligus Dosen Psikologi UKWMS Kampus Kota Madiun, Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog menjelaskan empat alasan mengapa batas sehat dalam relasi sering kali sulit dibuat. “Jadi sering kali kecenderungan kita yang sulit berkata tidak, menjadi alasan akhirnya kita susah set boundaries atau membuat batasan dalam hubungan itu sendiri”, Jelas Robik.

Mayoritas ketika kita sulit berkata tidak atau sulit menolak, karena ada rasa takut jika kita menolak maka akan merusak hubungan itu sendiri. Selanjutnya muncul anxious attachment atau kecemasan karena takut kehilangan kedekatan dengan orang tersebut. Tanpa sadar kita akan menjadi people pleaser, kemudian batas privasi kita terlewati dan membuat kita terpaksa bahkan tertekan dalam menjalani hubungan itu.

Alasan berikutnya menurut Robik adalah pola asuh atau secara turun-temurun yang menuntut kita untuk selalu mengutamakan orang lain. “Sering kita belajar menahan diri untuk kenyamanan orang lain, namun kita tidak memikirkan bagaimana diri kita sendiri, yang akhirnya terbawa hingga kita dewasa dan membuat kebingungan dalam menyikapi sebuah relasi yang sehat itu.

“Kemudian, kita menjadi pribadi yang bahkan tidak bisa mengetahui dan mengenali sebenarnya kita ingin apa, kita membutuhkan apa,” Ungkap Dosen Psikologi UKWMS Kota Madiun itu. Bahkan ketika kita sudah merasa lelah dengan serangkaian permintaan atau hal yang sebenarnya kita tahu itu bukan lagi menjadi tanggung jawab kita, namun terus menyanggupinya. Robik juga menegaskan bahwa tanpa adanya kesadaran maka batasan itu menjadi semakin abu- abu atau tidak jelas.

Terakhir, Founder dari psikologanak.id itu menjelaskan jika kita sering menormalisasi sebuah hubungan yang tidak seimbang. Makna dari ketidakseimbangan hubungan itu yakni ketika kita berada dalam sebuah hubungan, baik dalam konteks hubungan, pertemanan, pasangan, rekan kerja, kemudian kita mengalami rasa kelelahan tapi kita mengabaikannya atau menganggap bahwa itu adalah hal yang biasa.

“Jadi apapun ya hubungan dalam konteksnya baik itu keluarga, rekan kerja, pertemanan, pasangan dan sebagainya, ketika kita mengalami kelelahan emosional, kita anggap sebagai suatu hal yang biasa. Bisa jadi cukup dipakai tidur saja nanti juga sembuh atau membaik lagi, padahal jika seperti itu terus, kelelahan itu akan tetap ada bahkan tidak sembuh- sembuh,” ucap Robik kepada RRI Madiun.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Dari alasan- alasan yang dijelaskan, tentu penting untuk kita mencari cara agar bisa menetapkan batasan yang sehat. Selain juga lebih mengutamakan diri sendiri, dan memahami diri kita seutuhnya agar dalam menjalin sebuah relasi atau hubungan baik antar individu atau secara kelompok kita tetap hadir secara utuh, tetap nyaman tanpa paksaan atau tekanan sehingga hubungan itu benar- benar sehat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....