Cara Selesai dari Hubungan Toxic
- 25 Jan 2026 22:22 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun -Mengakhiri hubungan toxic bukan perkara mudah, terutama bagi anak muda yang sudah terlanjur terikat secara emosional. Banyak yang sadar hubungannya tidak sehat, namun tetap bertahan karena rasa takut kehilangan, kesepian, atau harapan pasangan akan berubah. Padahal, bertahan terlalu lama justru dapat memperparah dampak psikologis.
Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan bahwa langkah pertama untuk putus dari hubungan toxic adalah menyadari dan mengakui bahwa hubungan tersebut memang tidak sehat.
“Selama seseorang masih membenarkan perilaku yang menyakitkan, proses keluar dari hubungan akan sulit dilakukan,” ujar Andi, Jumat 23 Januari 2026.
| Baca juga: Ahli Ingatkan Bahaya Paparan Gawai pada Anak |
Menurut Andi, penting bagi korban toxic relationship untuk kembali mendengarkan perasaan sendiri. Rasa cemas berlebihan, lelah secara emosional, takut mengungkapkan pendapat, hingga kehilangan percaya diri merupakan tanda bahwa hubungan tersebut sudah melewati batas sehat.
Langkah selanjutnya adalah menetapkan batas yang jelas. Psikolog Andi Cahyadi menegaskan bahwa keputusan untuk mengakhiri hubungan harus disampaikan dengan tegas dan konsisten. “Hindari memberi harapan palsu atau membuka celah untuk manipulasi emosional,” katanya.
| Baca juga: Ini Dampak Negatif Overthinking |
Dukungan dari lingkungan sekitar juga memegang peran penting. Teman, keluarga, atau orang yang dipercaya dapat membantu memberikan perspektif yang lebih objektif. Dalam banyak kasus, korban toxic relationship merasa sendirian, padahal mereka tidak harus menghadapi proses ini sendirian.
Media sosial juga disarankan untuk dibatasi sementara waktu. Paparan konten pasangan atau kenangan bersama sering kali memicu keinginan untuk kembali. “Detoks media sosial bisa membantu proses pemulihan emosi,” jelas Andi.
Setelah putus, fase penyembuhan menjadi bagian yang tak kalah penting. Psikolog Andi Cahyadi menyarankan anak muda untuk fokus pada diri sendiri, membangun kembali rasa percaya diri, dan melakukan aktivitas yang memberi energi positif. Proses ini membutuhkan waktu dan tidak bisa dipaksakan.
Menutup pernyataannya, Andi mengingatkan bahwa mengakhiri hubungan toxic bukanlah kegagalan, melainkan bentuk keberanian. “Memilih kesehatan mental adalah keputusan dewasa. Hubungan yang baik seharusnya membuat seseorang tumbuh, bukan hancur,” pungkasnya
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....