Ahli Ingatkan Bahaya Paparan Gawai pada Anak

  • 30 Apr 2026 14:13 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun- Pada era yang serba digital saat ini, perangkat gawai seperti smartphone, televisi, hingga tablet telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak. Namun, di balik kemudahannya, terdapat risiko dan atau bahaya yang mengintai tumbuh kembang anak.

Arif Budi Santoso, selaku Founder dari Sekolah Anak Autisme & Special Needs Dalta Ozora Madiun yang juga merupakan Terapis, mengingatkan orang tua terkait bahaya paparan gawai pada anak khususnya pada kemampuan bicara.

“Paparan gawai memang secara umum dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak, khususnya pada kemampuan bicara terutama pada usia balita," ujar Arif.

Bahkan Arif menegaskan, dampak tersebut terasa jauh lebih kuat jika dialami oleh anak usia dini atau balita. Menurutnya, pengaruh gawai pada anak tidak selalu bersifat tunggal, namun terdapat sisi negatif maupun positif yang menyertainya.

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi pengaruh penggunaan gawai itu sendiri. Pertama, terkait durasi penggunaan dan kedua yakni cara orang tua mendampingi anak selama menggunakan gadget.

Arif juga menyampaikan bahwa masa emas pertumbuhan anak (golden age) berada pada usia 0 hingga 2 tahun. Tentu ini merupakan periode krusial bagi perkembangan kemampuan verbal dan interaksi sosial, dan Arif pun menekankan pentingnya orang tua untuk tidak memperkenalkan gawai (smartphone, tablet, maupun TV) kepada anak pada rentang usia tersebut.

Gawai, lanjut Arif, menciptakan hubungan searah yang pasif dimana anak hanya menjadi pendengar dan penonton tanpa adanya kewajiban untuk merespons. Hal ini berbeda jauh dengan komunikasi langsung yang memberikan feedback secara langsung.

"Kalau kita berinteraksi secara langsung, harus ada respon balik. Misalkan dipanggil dia menoleh, diminta 'dadah' dia melakukan. Tapi kalau melalui layar, anak cenderung diam dan tidak harus menanggapi apa yang ada di tayangan tersebut," jelasnya.

Arif juga menambahkan bahwa gawai sering kali menjadi "tabir pembatas" yang memisahkan anak dari realitas di sekitarnya. Meskipun anak mungkin menyerap kosakata dari tayangan yang mereka lihat, namun kata-kata itu sering kali tidak bisa digunakan dalam konteks sosial yang nyata bahkan setelah gawai dimatikan.

Selain masalah bahasa, Arif menyoroti hilangnya aspek fisik dalam pola asuh berbasis gawai. Pada usia 0-2 tahun, anak sangat membutuhkan sentuhan, pelukan, dan kehadiran fisik orang dewasa untuk membangun kedekatan emosional.

"Usia dini adalah masanya keep in touch. Anak perlu merasakan sentuhan langsung. Di dalam gawai, tidak ada sentuhan yang bisa memaksa anak untuk merespons," tambahnya.

Terakhir, Founder Sekolah Dalta Ozora Madiun tersebut menghimbau kepada para orang tua agar lebih bijak dalam mengatur waktu layar (screen time) bagi buah hati mereka dan melakukan pendampingan jika anak sudah diizinkan dalam penggunaan gawai. Hal ini guna memastikan proses komunikasi dua arah tetap berjalan optimal selama masa pertumbuhan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....