Toxic Relationship Picu Gangguan Mental, Benarkah?
- 25 Jan 2026 22:17 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun: Hubungan yang tidak sehat atau toxic relationship tidak hanya berdampak pada emosi sesaat, tetapi juga berpotensi memicu gangguan kesehatan mental. Fenomena ini semakin banyak dialami anak muda, terutama ketika hubungan diwarnai manipulasi, tekanan emosional, dan ketidaksetaraan peran.
Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan bahwa hubungan toxic dapat menjadi pemicu awal gangguan mental jika berlangsung dalam jangka waktu lama.
“Saat seseorang terus-menerus merasa disalahkan, diremehkan, atau dikontrol, kondisi psikologisnya akan tertekan dan rentan mengalami gangguan,” ujar Andi, Jumat 23 Januari 2026.
Menurut Andi, gangguan yang paling sering muncul adalah kecemasan dan stres kronis. Korban toxic relationship cenderung hidup dalam rasa waswas, takut berbuat salah, dan selalu merasa tidak cukup baik di mata pasangan. Kondisi ini membuat pikiran sulit tenang dan emosi tidak stabil.
Selain kecemasan, toxic relationship juga dapat menurunkan kepercayaan diri. Kritik berlebihan dan manipulasi emosional membuat korban meragukan nilai dirinya sendiri. “Dalam jangka panjang, ini bisa berkembang menjadi perasaan tidak berharga dan menarik diri dari lingkungan sosial,” jelas Andi.
Psikolog Andi Cahyadi juga menyoroti risiko munculnya gejala depresi. Rasa lelah secara emosional, kehilangan motivasi, dan perasaan terjebak dalam hubungan sering dialami oleh korban yang tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan diri.
Ironisnya, banyak korban tidak menyadari bahwa gangguan mental yang dialami bersumber dari hubungan yang dijalani. Normalisasi perilaku toxic dan anggapan bahwa hubungan harus selalu diperjuangkan membuat kondisi ini kerap diabaikan.
Lingkungan sekitar pun berperan penting. Minimnya dukungan dari teman atau keluarga membuat korban memilih bertahan dan memendam masalah sendiri. Padahal, dukungan sosial menjadi salah satu faktor pelindung kesehatan mental.
Menutup penjelasannya, Andi menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan mempertahankan hubungan. “Hubungan seharusnya menjadi ruang aman, bukan sumber luka. Jika sudah merusak mental, evaluasi dan keberanian untuk keluar adalah bentuk mencintai diri sendiri,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....