Sandwich Generation Mudah Depresi, Benarkah?
- 25 Jan 2026 20:45 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Tekanan hidup yang dialami sandwich generation semakin mendapat perhatian, terutama di kalangan anak muda usia produktif. Beban finansial, tanggung jawab keluarga, serta tuntutan untuk tetap berkembang kerap memicu stres berkepanjangan yang berisiko mengarah pada depresi.
Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan bahwa kondisi sandwich generation membuat seseorang rentan mengalami kelelahan emosional.
“Mereka berada di posisi serba salah. Di satu sisi harus menopang orang tua, di sisi lain dituntut mandiri dan sukses secara pribadi,” ujar Andi, Kamis 22 Januari 2026.
Menurut Andi, tekanan tersebut sering tidak disadari sebagai masalah serius. Banyak anak muda memilih memendam perasaan demi menjaga keharmonisan keluarga.
“Saat perasaan tertekan terus dipendam, muncul rasa tidak berdaya, cemas berlebihan, hingga kehilangan motivasi hidup,” katanya.
Andi menambahkan, risiko depresi meningkat ketika individu merasa tidak memiliki pilihan. Perasaan bersalah saat ingin memenuhi kebutuhan diri sendiri menjadi beban psikologis yang berat.
“Ini bukan soal lemah mental, tetapi situasi yang memang kompleks,” jelas Andi.
Andi menekankan pentingnya mengenali tanda awal kelelahan mental, seperti mudah marah, sulit tidur, dan menarik diri dari lingkungan sosial. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas hubungan keluarga.
Sebagai langkah pencegahan, ia menyarankan sandwich generation mulai membangun komunikasi terbuka dengan keluarga. Membahas kondisi finansial dan batas kemampuan secara realistis dinilai dapat mengurangi tekanan yang tidak perlu.
“Merawat kesehatan mental sama pentingnya dengan memenuhi tanggung jawab keluarga,” tutup Andi. Ia mengingatkan bahwa mencari bantuan dan berbagi cerita bukanlah bentuk kegagalan, melainkan upaya menjaga diri agar tetap mampu bertahan dan tumbuh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....