Ketika Anak Berbeda, Media Pembelajaran pun Harus Berbeda

  • 15 Agt 2026 11:04 WIB
  •  Madiun

RRI. CO. ID, Madiun- Keberagaman karakter dan kebutuhan belajar anak menuntut pendidik untuk menghadirkan media pembelajaran yang lebih inklusif dan adaptif. Cara belajar setiap anak yang berbeda membuat penggunaan satu metode dan satu bentuk media pembelajaran berisiko membuat sebagian anak tertinggal dalam mengikuti proses belajar.

Hal tersebut disampaikan Dosen Universitas PGRI Madiun (UNIPMA), Dr. Wasilatul Murtafiah, M.Pd., dalam tulisannya mengenai pentingnya media pembelajaran inklusif, khususnya pada jenjang pendidikan anak usia dini.

Menurut Wasilatul, anak memiliki cara belajar yang beragam. Sebagian lebih mudah memahami materi melalui gambar, sebagian melalui suara, sementara anak lainnya membutuhkan aktivitas yang melibatkan gerakan dan sentuhan.

“Ketika media pembelajaran hanya tersedia dalam satu bentuk, sebagian anak otomatis tertinggal bukan karena tak mampu, tetapi karena pintu masuk yang kita sediakan terlalu sempit,” tulis Wasilatul beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya penerapan prinsip Universal Design for Learning (UDL) dalam pembelajaran. Konsep ini mendorong guru untuk sejak awal menyediakan beragam cara dalam menyampaikan materi, memberikan kesempatan kepada anak untuk menunjukkan pemahaman, sekaligus membangun minat belajar.

Wasilatul mengibaratkan pembelajaran inklusif seperti sebuah bangunan yang sejak awal menyediakan tangga sekaligus jalur landai. Fasilitas tersebut tidak hanya bermanfaat bagi pengguna kursi roda, tetapi juga dapat membantu orang tua dengan kereta bayi maupun orang yang membawa barang.

“Media pembelajaran yang inklusif bekerja dengan logika yang sama: dirancang untuk menjangkau anak dengan kebutuhan khusus, tetapi pada akhirnya menguntungkan semua anak,” jelasnya.

Di tengah perkembangan teknologi, guru juga menghadapi tantangan baru untuk mampu menciptakan media pembelajaran digital yang adaptif. Media tersebut dapat berupa kartu bergambar interaktif, video pembelajaran, hingga permainan edukatif yang mampu menyesuaikan kebutuhan peserta didik.

Namun, menurut Wasilatul, kemampuan tersebut tidak dapat dibebankan kepada guru seorang diri. Diperlukan pelatihan, pendampingan, serta kolaborasi agar guru mampu mengembangkan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Atas dasar tersebut, Universitas PGRI Madiun menggagas program pemberdayaan bersama Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kabupaten Madiun melalui pelatihan pembuatan media pembelajaran inklusif digital berbasis aplikasi e-IM3 Creative.

Dalam program tersebut, guru tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya teknologi dalam pembelajaran, tetapi juga diajak secara langsung memproduksi media pembelajaran. Materinya mencakup pemahaman prinsip UDL, pembuatan kartu bergambar interaktif, video pembelajaran, hingga permainan edukatif adaptif.

“Begitu guru diberi ruang, alat, dan pendampingan yang cukup, mereka mampu menghasilkan media yang jauh lebih kaya daripada yang mereka kira,” ungkap Wasilatul.

Kolaborasi antara kemampuan pedagogis dan penguasaan teknologi menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Guru yang sebelumnya merasa ragu menggunakan teknologi didorong untuk menjadi lebih percaya diri dalam merancang media pembelajaran.

Wasilatul menegaskan, penggunaan teknologi dalam pendidikan anak usia dini tidak cukup hanya menghasilkan media yang menarik secara visual. Media pembelajaran harus mampu merespons perbedaan kebutuhan dan karakter setiap anak.

Selain itu, peningkatan kompetensi guru juga tidak cukup dilakukan melalui pelatihan satu kali. Guru membutuhkan kesempatan untuk mencoba, mendapatkan pendampingan, serta melakukan evaluasi dan perbaikan berdasarkan pengalaman di kelas.

“Inklusi bukanlah program tambahan yang bisa ditunda. Ia adalah cara pandang yang mestinya melekat sejak sebuah pembelajaran dirancang — sejak lembar pertama, bukan sebagai tambalan di akhir,” tegasnya.

Ia menambahkan, setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan akses belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Karena itu, keberagaman anak harus diikuti dengan keberagaman media dan strategi pembelajaran.

“Setiap anak berhak atas pintu masuknya sendiri menuju ilmu,” tulis Wasilatul.

Program pemberdayaan tersebut dilaksanakan oleh tim pengabdian kepada masyarakat UNIPMA yang terdiri atas Dr. Wasilatul Murtafiah, M.Pd., Dr. Rischa Pramudia Trisnani, M.Pd., dan Sri Anardani, S.Kom., M.T.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....