Jangan Asal Dokumentasi, Untuk Menjaga Kekhusyukan Ibadah Haji

  • 09 Mei 2025 14:45 WIB
  •  Madiun

KRBN, Madiun: Kebiasaan mendokumentasikan momen tertentu memang boleh saja dilakukan. Begitu juga bagi para Jemaah Calon Haji (JCH) yang akan menjalankan ibadah di Tanah Suci. Namun demikian, ada baiknya jangan asal mendokumentasikan setiap momen, karena dikhawatirkan bisa menganggu kekhusyukan ibadah.

Dosen Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo sekaligus Ketua Dewan Pimpinan (DP) MUI Kabupaten Madiun Dr. H. Agus Tri Cahyo, M.A mengatakan, sekarang ini hampir setiap jemaah punya Hp. “Artinya tidak ada larangan,” ujar dia saat menjadi narasumber Mutiara Pagi Pro 1 RRI Madiun, Selasa (6/5/2025) lalu.

Nah, penggunaan aplikasi di Hp atau apapun saja, hendaknya tetap bisa menjaga keikhlasan hati. Contohnya, penggunaan kamera untuk dokumentasi. “Dokumentasi memang penting untuk menunjukan aktivitas itu benar dilakukan. Seperti saya saat menguji skripsi mahasiswa harus ada dokumentasi, dan pekerjaan lainnya,” ujar dia.

Namun, dalam ibadah Haji, tentu dokumentasi ini harus dilakukan lebih hati-hati. “Karena ibadah Haji ini dikhususkan pada Allah. Sering kali tujuan fokus kita pada Allah ini menjadi tergantikan pada fokus laporan-laporan pada manusia. Inilah yang menjadi amal kita rusak,” ucap Agus.

Karena itu, Agus mengatakan, jangan sampai aktivitas dokumentasi ini justru menganggu kekhusukan ibadah Haji. “Jangan sampai tawaf (ibadah mengelilingi kabah di Masjidil Haram sebanyak tujuh kali) sambil selfie, atau melakukan aktivitas ibadah, kita tidak fokus pada Allah. Ibadah tapi fokusnya pada kamera,” ujar dia.

Agus mengingatkan, yang paling penting jangan menjadikan ibadah Haji itu sebagai sarana untuk pamer diri, menunjukan kebaikan, yang tujuannya menjadikan sombong, riya, sum’ah, ujub dan sebagainya. “Saya tidak bisa menyebutkan banyak, karena memang perilaku (riya, sum’ah) ini yang tahu adalah Allah dan dirinya,” ujar dia.

Karena, jelas Agus, ada sesuatu sifatnya pamer, tapi sesuatu yang sama juga bisa disebut syiar. “Contoh, imam salat menggunakan speaker, mengapa? apakah ini bisa jadi riya? iya bisa. Apakah bisa jadi syiar? bisa juga, sebagai sarana syiar. Hp ini bisa jadi sarana sum’ah dan riya, tapi juga bisa jadi syiar. Tinggal kita menata hati,” ucap dia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....