Indonesia Jadi Salah Satu Negara dengan Penggemar Mi Instan Terbanyak

  • 27 Agt 2026 18:07 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Mi instan kini bukan lagi sekadar pilihan makanan praktis. Bagi masyarakat di berbagai negara, terutama kawasan Asia, mi instan telah menjadi bagian dari kebiasaan makan sehari-hari. Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat konsumsi mi instan yang cukup tinggi di dunia.

Data World Instant Noodles Association (WINA) tahun 2025 mencatat konsumsi mi instan di Indonesia mencapai rata-rata 52 bungkus per orang dalam setahun. Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat kelima dalam daftar negara dengan konsumsi mi instan per kapita tertinggi.

Laporan WINA yang dikutip Korea Times menunjukkan negara-negara Asia mendominasi daftar tersebut. Vietnam berada di posisi teratas dengan konsumsi rata-rata 81 bungkus per orang per tahun. Korea Selatan menyusul dengan sekitar 79 bungkus.

Berikut daftar negara dengan konsumsi mi instan per kapita tertinggi:

  1. Vietnam – 81 bungkus per tahun
  2. Korea Selatan – 79 bungkus per tahun
  3. Thailand – 57 bungkus per tahun
  4. Nepal – 54 bungkus per tahun
  5. Indonesia – 52 bungkus per tahun
  6. Jepang dan Malaysia – masing-masing 47 bungkus per tahun

Meski praktis dan memiliki banyak pilihan rasa, konsumsi mi instan secara berlebihan perlu diperhatikan. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kandungan natrium pada produk tersebut. Mi instan juga umumnya menggunakan tepung olahan dan melalui proses penggorengan sebelum dikemas.

Menurut laporan Healthline, satu porsi mi instan dapat mengandung natrium hingga sekitar 1.769 miligram. Jumlah tersebut setara dengan sebagian besar batas asupan natrium harian yang direkomendasikan.

Terlalu banyak mengonsumsi natrium secara terus-menerus dapat meningkatkan tekanan darah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke.

Sejumlah penelitian juga menemukan adanya hubungan antara frekuensi konsumsi mi instan yang tinggi dengan beberapa indikator kesehatan metabolik. Salah satu penelitian terhadap mahasiswa di Seoul menunjukkan konsumsi mi instan lebih dari tiga kali dalam sepekan berkaitan dengan peningkatan trigliserida, tekanan darah diastolik, dan kadar gula darah puasa.

Penelitian lainnya yang melibatkan perempuan juga menemukan adanya hubungan antara konsumsi mi instan lebih dari dua kali dalam seminggu dengan meningkatnya risiko sindrom metabolik. Kondisi ini dapat melibatkan sejumlah faktor sekaligus, seperti obesitas, tekanan darah tinggi, gangguan kadar kolesterol, dan peningkatan gula darah.

Pola makan yang beragam dan seimbang tetap menjadi kunci untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh sekaligus mengurangi risiko akibat konsumsi makanan tinggi garam dan rendah zat gizi secara berlebihan. (DMR).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....