Mengenal Yayoi Kusama, Seniman Berjuluk Ratu Polkadot
- 30 Agt 2026 21:11 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Nama Yayoi Kusama tentu tidak asing bagi para seniman maupun penikmat seni. Seniman asal Jepang yang dijuluki ‘Ratu Polkadot’ itu pernah memamerkan karya instalasi seninya di Indonesia pada tahun 2018, bertajuk ‘Life is the Heart of a Rainbow’ di Museum Macan, Jakarta.
Kabar wafatnya Yayoi Kusama pada Jumat 14 Agustus lalu, tentu menandai berakhirnya perjalanan karier senimannya selama lebih dari tujuh dekade. Perempuan yang lahir di Kota Matsumoto, Prefektur Nagano itu berhasil mengubah halusinasi masa kecilnya menjadi maha karya visual yang mendunia, serta berfokus pada tema alam, cinta, dan keabadian.
Pada masa kanak- kanak, Kusama sering ke kebun dengan membawa buku sketsa menggambar. Fase tersebutlah, pertama kalinya ia mengalami halusinasi. Melansir dari The Art Newspaper, bahwa disebutkan dalam otobiografinya, Kusama menceritakan pengalaman emosional saat berada di hamparan bunga violet yang seolah berbicara kepadanya. Bahkan tak selesai sampai disitu, ada juga bayangan jaring yang menyertai sekaligus titik-titik yang terus berlipat ganda yang ia lihat dan rasakan.
Alhasil, pengalaman psikologis tersebut menjadi dorongan yang kuat sekaligus sarana pelepasan emosinya atas trauma masa kecilnya, dan melahirkan karya- karya yang menakjubkan.
Pada tahun 1957, untuk mendapatkan kebebasan untuk berkarya, Yayoi Kusama mengawali karier internasional dengan hijrah ke Amerika Serikat.
Satu tahun kemudian, Ia menuju ke New York pada dan menggebrak dunia seni lewat pameran tunggalnya pada 1959 yang menampilkan seri lukisan monokrom ‘Infinity Net’. Dalam karya berskala besar tersebut, bahkan menuntut proses melukis secara impulsif puluhan jam nonstop berhasil menyaingi dominasi seniman pria di New York bahkan mendapat pujian luas di Eropa.
Selanjutnya karya inovasi yang luar biasa dilahirkan sekaligus pelopor seni patung ‘Accumulation’. Selain itu, masih pada tahun 1960-an, lahir pula instalasi ‘One Thousand Boats Show’ serta salah satu karya yang terus relevan dan diminati lintas generasi karena kemampuannya menjalin koneksi sosial dan keterlibatan emosional pengunjung, yakni ‘Infinity Mirror Room’.
Namun masa terpuruknya juga sempat hadir, lantaran nama Kusama sempat tergeser oleh dominasi seniman pria Anglo Amerika ketika ia kembali ke Jepang pada 1973.
Perempuan kelahiran 22 Maret 1929 silam itu juga pernah secara sukarela, memilih tinggal di sebuah rumah sakit jiwa di Tokyo sejak 1977. Hal tersebut lantaran adanya gangguan kesehatan mental dan tekanan finansial, namun kondisi tersebut tidak menghentikan semangatnya untuk terus berkarya di studio yang dibangun tepat di seberang rumah sakit tersebut.
Kusama kembali meraih puncak karirnya pada periode 1980 hingga 1990 lewat beragam pameran retrospektif internasionalnya. Dalam perhelatan Venice Biennale, Kusama mewakili Jepang tepatnya pada tahun 1993.
Kolaborasi komersialnya bersama Louis Vuitton, salah satu rumah mode dunia, semakin menempatkan posisinya sebagai ikon budaya pop global.
Dedikasinya terhadap seluruh karya yang ia ciptakan, juga Ia hadirkan melalui Museum Yayoi Kusama pada tahun 2017 yang dibuka resmi di Tokyo. Berbagai apresiasi serta penghargaan juga Ia raih sepanjang kariernya.
Kusama juga ditetapkan sebagai Tokoh Berjasa di Bidang Kebudayaan (Person of Cultural Merit) oleh pemerintah Jepang. Serta pada tahun 2016 Ia menerima Tatanan Kebudayaan salah satu penghargaan tertinggi dari Kaisar Jepang
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....