Bijak Mengatur Keuangan di Bulan Ramadan dan Lebaran

  • 04 Mar 2026 13:39 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Bulan Ramadhan hingga perayaan Idul Fitri selalu menjadi momen yang dinantikan umat Islam. Selain sebagai waktu untuk meningkatkan kualitas ibadah, periode ini juga identik dengan tradisi berbagi, berkumpul bersama keluarga, serta memenuhi berbagai kebutuhan yang biasanya meningkat dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Kebutuhan belanja selama Ramadhan dan menjelang Lebaran cenderung melonjak, mulai dari kebutuhan pangan, pakaian, hingga persiapan mudik dan pemberian hadiah. Kondisi ini sering kali membuat pengeluaran rumah tangga meningkat signifikan. Tanpa perencanaan yang matang, belanja dapat menjadi tidak terkendali dan bersifat impulsif.

Karena itu, penyesuaian anggaran menjadi hal yang penting. Setiap individu maupun keluarga perlu menyusun prioritas pengeluaran dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan yang dimiliki. Sikap kehati-hatian diperlukan agar kondisi finansial tetap stabil, tidak hanya selama Ramadan, tetapi juga setelah Idul Fitri berlalu.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Akhmad Akbar Susamto, S.E., M.Phil., Ph.D., menjelaskan bahwa meningkatnya konsumsi pada periode ini merupakan fenomena yang wajar, baik dari sisi agama maupun budaya. Ramadan dan Lebaran memang membawa dorongan sosial dan spiritual yang mendorong masyarakat untuk meningkatkan pengeluaran.

Namun demikian, ia menekankan pentingnya perencanaan yang cermat. Masyarakat perlu memikirkan dengan sungguh-sungguh barang atau kebutuhan apa saja yang akan dibeli serta memastikan sumber pendanaannya jelas. Dengan perencanaan yang baik, keuangan tetap sehat dan tidak menimbulkan beban setelah Lebaran.

Cara sederhana seperti membuat daftar kebutuhan, memisahkan antara kebutuhan dan keinginan, serta menetapkan batas anggaran dapat membantu mengendalikan pengeluaran.

Selain itu, memanfaatkan pendapatan tambahan seperti tunjangan hari raya (THR) secara bijak juga menjadi kunci agar kondisi finansial tetap terjaga.

Esensi Ramadhan dan Idul Fitri bukan terletak pada besarnya konsumsi, melainkan pada nilai spiritual, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Dengan pengelolaan keuangan yang bijak, masyarakat dapat merayakan momen istimewa ini dengan tenang tanpa khawatir terhadap kondisi keuangan di kemudian hari. UU.

Rekomendasi Berita