Kisah Mbah Darmin, Menjaga Kualitas Bakso Goyang Lidah Sejak 1976

  • 05 Jan 2026 13:30 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun: Kuliner bakso masih menjadi opsi pertama di tengah ragam pilihan jajanan. Di kabupaten Magetan, ada seorang pedagang bakso yang teguh mempertahankan kemurnian kualitas dan rasa sejak 1976.

Dialah Darmin, pemilik usaha Bakso Goyang Lidah yang kini berjualan menetap di Alun-alun Magetan.

Mbah Darmin, begitu ia akrab disapa, meyakini makanan harus dibuat dari bahan alami. Sejak pertama kali berkeliling menjajakan bakso di rumah dinas kabupaten hingga akhirnya menetap di alun-alun, ia mengaku tidak pernah menurunkan kualitas bahan yang ia gunakan. Bahkan, ia menyatakan tidak pernah mencampur adonan baksonya dengan daging ayam demi mempertahankan kualitas rasa.

"Selama berjualan bakso mulai 1976, memang saya tidak pernah mencampur dengan daging ayam. Alami semua," tegasnya, Minggu (4/1/2026).

Konsistensi ini berakar dari filosofi pribadinya yakni makanan yang ia jual haruslah layak dan bisa ia nikmati sendiri sebelum disajikan kepada orang lain. Bagi Mbah Darmin, selain harus enak, makanan juga harus sehat dan bergizi agar tidak mendatangkan penyakit bagi konsumennya

"Untuk Mbah Darmin, makanan yang tidak enak atau tidak murni bukanlah sumber gizi, melainkan bisa menjadi sumber penyakit," tambahnya.

Komitmen Mbah Darmin terhadap kesehatan pelanggan bukan sekadar klaim sepihak. Sejak tahun 2000-an, produk baksonya telah melewati uji laboratorium kesehatan sebagai upaya menjaga kualitas.

"Bakso saya ini mulai sejak tahun 2002 sudah di-lab di kesehatan," tambahnya.

Kesetiaan Mbah Darmin pada rasa murni membuah hasil dengan adanya pelanggan yang terus mengalir sejak harga baksonya masih ratusan perak hingga kini menjadi Rp12.000 per porsi. Namun, di tengah loyalitas tersebut, ia mengaku kini harus menghadapi tantangan yang menurutnya mengganggu kenyamanan para pelanggan.

Mbah Darmin mengaku penataan parkir yang menjauh dari tempat usahanya serta adanya tarif retribusi, menjadi kendala utama bagi pelanggan. Kondisi ini memicu keluhan dari pembeli dan berdampak langsung pada penurunan omzet harian yang dialami Mbah Darmin

Meski begitu, ia tetap memilih untuk telaten dalam berusaha. Bagi Mbah Darmin, kunci usahanya bertahan selama setengah abad ini adalah menjaga kualitas, tetap sehat, dan yang terpenting, hati yang senang. Di tengah dunia yang serba instan, Mbah Darmin membuktikan bahwa kesetiaan pada kualitas murni adalah hal yang tidak boleh luntur dimakan zaman.

"Kuncinya mulai 1976 sampai sekarang yang penting sehat, netral, dengan begitu harapannya tidak halangan apapun. Selain itu hati senang dan mempertahankan kualitas." pungkasnya. (UF)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....