Cantiknya Bunga Telang dalam Segelas Minuman Tradisional di Kota Madiun
- 03 Mei 2026 12:34 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Pemandangan jamu berwarna biru mungkin masih asing bagi sebagian orang. Namun di tangan pelaku UMKM di Kota Madiun, warna biru dari bunga telang justru menghadirkan tampilan berbeda pada minuman tradisional yang ia produksi.
Keunikan tersebut menjadi ciri khas produk jamu Malika yang dirintis oleh Ully Haque Ussianti. Usaha produksi jamu ini mulai berjalan pada tahun 2020, bertepatan dengan masa pandemi Covid-19.
Ully menjelaskan pada awalnya racikan jamu yang ia buat masih sederhana, yakni menggunakan sereh, lemon, jahe, dan madu. Ide penggunaan bunga telang muncul secara tidak terduga, saat seorang temannya memberikan bunga tersebut karena kurang diminati di pasaran.
Rasa penasaran mendorong Ully untuk mencoba mencampurkan bunga telang ke dalam racikan jamunya. Dari percobaan sederhana itu, muncul daya tarik visual yang berbeda dari jamu pada umumnya.
“Saya juga penasaran ini bunga kok bisa ungu warnanya. Lalu saya campur ke jamu yang saya bikin, warnanya lucu dan cantik. Kalau tidak diberi lemon atau jeruk, warnanya tetap biru. Tapi saat saya tambahkan jeruk, warnanya jadi ungu. Rasanya tidak berubah, hanya pengaruh di warna saja,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).
Produk jamu telang tersebut kemudian Ully tawarkan kepada teman-temannya dan mendapat respons positif. Seiring waktu, jamu telang mulai diproduksi dan dipasarkan lebih luas, serta diterima oleh konsumen.
Menurut Ully, sebagian pelanggan dari kalangan anak muda menilai jamu buatannya terasa segar dan tidak seperti jamu pada umumnya.
“Sejauh ini testimoni mereka (red. anak muda) adalah ini segar ya, tidak seperti minum jamu,” tambahnya.
Selain jamu telang, Malika juga memproduksi varian lain seperti temu lawak, kunyit asam, beras kencur, hingga bir pletok, yang dipasarkan dalam bentuk botolan maupun olahan seperti teh telang celup dan wedang uwuh kering. Dalam proses produksinya, Ully dibantu delapan karyawan dari lingkungan sekitar dan menggunakan bahan baku yang sebagian besar diperoleh dari pasar dan pemasok lokal di wilayah Madiun.
Dalam sehari, produksi jamu botolan Malika mencapai sekitar 50 hingga 70 botol dengan harga Rp10.000 per botol untuk seluruh varian. Di tengah perkembangan usaha, Ully menghadapi tantangan kenaikan biaya produksi, terutama dari bahan baku seperti jahe dan kencur serta kemasan plastik.
Ia mengaku sempat menyesuaikan harga, namun berdampak pada penurunan penjualan sehingga hingga kini masih mempertahankan harga lama
“Sementara kami masih mencari solusi bagaimana kami bisa menjual harga seekonomis mungkin tapi penjualan tetap maksimal,” lanjutnya.
Untuk pemasaran, Ully mengungkap produk Malika saat ini masih difokuskan di wilayah Pulau Jawa. Jamu dikirim dalam kondisi beku untuk menjaga kualitas, mengingat produk tidak menggunakan bahan pengawet sehingga memiliki daya tahan terbatas.
Penjualan juga dilakukan melalui toko oleh-oleh, reseller, serta pesanan dari instansi, dengan jangkauan konsumen yang telah mencapai beberapa kota seperti Semarang dan Jakarta. Ke depan, Ully berharap produk jamu yang dikembangkannya dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Ia juga ingin agar jamu, khususnya di Kota Madiun, dapat menjadi salah satu pilihan oleh-oleh khas daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....