Transisi Anak dari PAUD ke TK

  • 28 Jul 2025 15:31 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun: Bagi sebagian orang tua, hari pertama anak memasuki Taman Kanak-Kanak (TK) bisa jadi momen penuh haru. Namun bagi anak-anak, itu bisa jadi fase penuh kebingungan. Dari kebiasaan bermain bebas di rumah atau Kelompok Bermain (KB), mereka tiba-tiba harus belajar dengan struktur dan aturan yang baru.

Di balik senyum anak-anak yang memakai seragam cerah, ada cerita transisi yang sering tak terlihat, transisi dari dunia bermain lepas ke lingkungan belajar yang lebih terarah.

Transisi dari KB ke TK sering dianggap sederhana, padahal ini adalah perubahan besar dalam hidup anak usia dini. Di KB, anak-anak lebih banyak bermain bebas, mengenal teman, dan bereksplorasi. Sementara di TK, meski masih menyenangkan, pembelajaran mulai lebih terstruktur: mengenal huruf, angka, mengikuti instruksi, hingga duduk lebih lama.

"Anak saya sempat mogok sekolah saat pertama masuk TK. Katanya, terlalu banyak aturan dan tidak boleh main pasir lama-lama," cerita Cawiwi, orang tua Nufail (5 tahun), sambil tertawa kecil. "Saya baru sadar, ternyata transisi dari KB ke TK itu tidak sesederhana ganti kelas."

Peran Guru sebagai Jembatan Emosional. Guru di TK punya peran ganda, sebagai pendidik dan pengasuh emosional. Di sinilah tantangan muncul. Anak yang belum siap secara sosial-emosional bisa menunjukkan tanda-tanda stres ringan, menangis, enggan masuk kelas, atau menjadi sangat pasif.

"Saat menerima murid baru dari KB, kami tidak langsung mulai dengan belajar angka. Kami justru membuat kegiatan perkenalan, drama kecil, dan mengenalkan area belajar dengan santai," kata Bu Rita, guru TK berpengalaman di Madiun. "Anak-anak butuh rasa aman dulu, baru bisa belajar dengan tenang."

Menurut para ahli, masa transisi ini memerlukan dukungan simultan dari orang tua dan guru. Beberapa strategi yang disarankan. Rutinitas di rumah disesuaikan yaitu tidur, sarapan, waktu belajar ringan. Libatkan anak bicara soal TK sejak jauh hari dengan cara tunjukkan gambar sekolah, cerita pengalaman menyenangkan. Lakukan kunjungan awal ke sekolah sehingga anak bisa melihat lingkungan dan mengenal guru. Respons emosional yang stabil dari orang tua, jangan panik saat anak menangis. Bekerja sama dengan guru, sampaikan kebiasaan anak, makanan favorit, atau hal yang membuatnya nyaman.

Pemerintah melalui Permendikbudristek No. 13 Tahun 2025 menegaskan bahwa TK merupakan bagian dari jalur wajib belajar 13 tahun, di mana pendidikan PAUD (termasuk KB) menjadi tahap awal yang penting.

"PAUD bukan tempat menunggu masuk SD. Ini adalah pondasi karakter dan kesiapan belajar anak. Transisi dari PAUD ke SD, atau bahkan KB ke TK, harus dipandu secara sadar dan lembut." Nadiem Makarim.

Dengan kebijakan ini, setiap anak usia 4-6 tahun diharapkan sudah masuk TK. Tapi kesiapan anak tidak bisa hanya dilihat dari umur. Ada aspek kognitif, sosial, emosional, dan motorik yang harus disiapkan melalui proses bertahap.

Perjalanan Unik Setiap Anak. Tidak ada rumus pasti dalam mendampingi anak melewati transisi ini. Ada yang antusias sejak hari pertama, ada juga yang butuh waktu berminggu-minggu. Yang terpenting, anak diberi ruang untuk berproses sesuai kecepatannya.

"Anak bukan miniatur orang dewasa. Jangan buru-buru mengharapkan mereka langsung ‘sekolah serius’. Dunia mereka masih bermain, tapi bermain yang bermakna," kata Netti Herawati, Ketua Umum HIMPAUDI.

Butuh Kolaborasi, Bukan Instruksi. Transisi dari PAUD ke TK bukan tugas guru semata, juga bukan beban orang tua sepenuhnya. Ini adalah tanggung jawab bersama untuk menciptakan pengalaman sekolah pertama yang menyenangkan, aman, dan penuh kasih.

Karena di balik setiap anak yang berhasil melalui transisi itu, ada orang dewasa yang sabar menuntunnya, setapak demi setapak.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....