Anyaman Jadi Andalan, Potensi Tinggi di tengah Perputaran Ekonomi

  • 05 Okt 2026 19:07 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Kerajinan tas anyaman masih menjadi salah satu usaha yang mampu bertahan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, usaha tas anyaman milik UD Karya Lestari terus berkembang dan menjadi sumber penghasilan bagi puluhan warga.

Di balik keberlangsungan usaha tersebut, terdapat kisah perjuangan keluarga yang telah menekuni bisnis tas anyaman selama sekitar dua dekade. Latifah Nur'Aini, S.H., mengatakan usaha tersebut telah dirintis keluarganya sejak 20 tahun lalu. Setelah sang ayah jatuh sakit, Latifah bersama ibunya mengambil peran untuk melanjutkan usaha keluarga tersebut.

"Bisnis ini sudah dimiliki keluarga sejak sekitar 20 tahun yang lalu. Setelah ayah sakit, saya bersama ibu melanjutkan usaha ini sampai sekarang," ujar Latifa, Senin, 5 Oktober 2026.

Latifah mengaku perjalanan melanjutkan usaha keluarga tidak selalu berjalan mudah. Terlebih setelah sang ayah meninggal dunia, dirinya sempat merasa terpuruk dan kehilangan semangat untuk meneruskan usaha yang telah dibangun keluarganya.

Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti. Latifah perlahan bangkit dan memilih untuk melanjutkan usaha keluarga sekaligus mengembangkan UD Karya Lestari.

"Sempat down setelah ditinggal ayah. Tetapi saya berpikir, usaha ini harus tetap berjalan. Akhirnya saya bangkit dan melanjutkan bisnis keluarga bersama ibu," tuturnya.

Kini, usaha yang berada di Desa Kedungbanteng tersebut terus menunjukkan perkembangan. Produk utama berupa tas anyaman dipasarkan dengan harga yang relatif terjangkau, mulai dari Rp4.000 untuk ukuran paling mini. Harga tersebut membuat produk anyaman UD Karya Lestari dapat menjangkau berbagai kalangan.

Permintaan terhadap produk tersebut juga tidak hanya berasal dari wilayah Madiun dan sekitarnya. Tas anyaman produksi UD Karya Lestari bahkan telah dikirim hingga Kota Demak, Jawa Tengah. Dalam satu permintaan, jumlah pesanan dapat mencapai 10.000 buah tas.

Besarnya permintaan tersebut turut membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar. Saat ini, sekitar 30 orang telah bergabung dengan UD Karya Lestari untuk mengerjakan proses penganyaman.

Latifah mengatakan pihaknya masih membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin bekerja dan memiliki keterampilan atau ketertarikan dalam menganyam. Menurutnya, perkembangan usaha tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana usaha tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

"Kami masih menerima kalau ada yang ingin bekerja menganyam. Semakin banyak pesanan, tentu semakin banyak juga tenaga yang kami butuhkan," katanya.

Bagi Latifah, usaha tas anyaman bukan sekadar bisnis keluarga yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Usaha tersebut juga menjadi ruang untuk memberdayakan masyarakat dan menciptakan lapangan pekerjaan di lingkungan sekitar.

Ke depan, Latifah memiliki harapan yang lebih besar terhadap perkembangan UD Karya Lestari. Ia ingin produk tas anyaman yang diproduksi di Desa Kedungbanteng tidak hanya menjangkau pasar antarkota dan antarprovinsi, tetapi juga mampu menembus pasar luar negeri.

"Harapannya, tas anyaman ini bisa diekspor sampai ke luar negeri. Saya juga ingin usaha ini semakin berkembang sehingga bisa membuka lebih banyak lapangan pekerjaan untuk masyarakat," pungkas Latifah.

Dengan pengalaman usaha selama dua dekade, dukungan tenaga kerja lokal, serta permintaan yang telah mencapai ribuan produk, UD Karya Lestari menjadi gambaran bahwa kerajinan tradisional masih memiliki peluang untuk berkembang di tengah dinamika ekonomi. Dari tangan para penganyam di Desa Kedungbanteng, produk sederhana tersebut terus membuka jalan bagi perputaran ekonomi dan kesempatan kerja bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....