Pendapatan Perhutani KPH Madiun Mencapai Rp50 Miliar, Produksi Kayu Tembus Eropa
- 16 Sep 2026 06:21 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Kota Madiun – Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Madiun optimistis mampu memenuhi target pendapatan tahun ini. Hingga Juli 2026, realisasi penerimaan dari sektor kayu telah mencapai sekitar 77 persen atau setara sekitar Rp50,05 miliar dari target Rp65 miliar.
Administratur Perum Perhutani KPH Madiun Rusydi mengatakan, pihaknya masih memiliki waktu hingga akhir tahun untuk mengejar sisa target pendapatan.
"Kalau realisasi sampai dengan saat ini, kita sudah tercapai sekitar 77 persen dari Rp65 miliar tersebut. Sampai dengan bulan Juli," kata Rusydi.
| Baca juga: Nahanoms Jadi Jajanan Favorit di Madiun |
Menurut dia, target pendapatan tersebut berasal dari sektor kayu yang menjadi bagian dari Divisi Komersial Perum Perhutani. Rusydi optimistis target Rp65 miliar bisa terealisasi 100 persen hingga akhir tahun.
"Dengan waktu yang tersisa, saya yakin pencapaian pendapatan sampai akhir tahun bisa tercapai 100 persen. Masih memungkinkan karena masih ada proses penebangan maupun penjualan yang dilakukan oleh KBM (Kesatuan Bisnis Mandiri) Komersial," ujarnya.
Untuk tahun ini, KPH Madiun mendapat jatah tebangan sekitar 17 ribu meter kubik. Mayoritas kayu yang ditebang merupakan jenis jati, disusul mahoni.
Rusydi menjelaskan, volume tebangan setiap tahun relatif tidak jauh berbeda. Sebab, kegiatan penebangan telah diatur secara ketat melalui rencana kerja yang mempertimbangkan luas dan volume tebangan.
"Produktivitas kayu dari tebangan rata-rata hampir sama setiap tahun. Dalam melaksanakan tebangan sudah ditentukan secara etat jatah luas maupun volume yang ditetapkan setiap tahunnya," ujarnya.
Pengaturan tersebut dilakukan untuk menjaga kelestarian hutan. Penebangan tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena harus menyesuaikan dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
"Sehingga dengan adanya jatah luas maupun volume, diharapkan kelestarian hutan bisa terjaga dengan baik," ucapnya.
Optimisme mencapai target pendapatan bukan tanpa alasan. Rusydi menyebut target yang diberikan perusahaan pada tahun-tahun sebelumnya selalu terpenuhi, bahkan kerap terlampaui.
"Untuk KPH Madiun, alhamdulillah selalu target yang ditetapkan perusahaan terpenuhi dan kita bisa mencetak laba," katanya.
Sementara itu, kayu hasil tebangan tidak langsung dipasarkan oleh KPH Madiun. Kayu terlebih dahulu dikirim ke Tempat Pengumpulan Kayu (TPK). Selanjutnya, pemasaran dilakukan oleh KBM Komersial Perum Perhutani.
Menurut Rusydi, pembeli kayu umumnya berasal dari industri yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Kayu tersebut kemudian diolah menjadi berbagai produk sebelum sebagian di antaranya dipasarkan ke luar negeri.
"Biasanya kayu-kayu itu dijual kepada industri-industri yang ada di Indonesia. Dari industri tersebut biasanya diekspor sampai ke mancanegara, misalnya Eropa, Cina, kemudian Amerika Serikat," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....