Pelatihan Pemasaran Digital Bantu Warga Desa Wayut Kembangkan Produk Lokal

  • 27 Jun 2026 12:29 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun — Warga Desa Wayut, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, mendapat pelatihan pemasaran digital untuk membantu mengembangkan dan memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat yang lebih luas. Melalui pelatihan ini, warga belajar memanfaatkan media sosial, kecerdasan buatan (AI), dan aplikasi desain Canva sebagai sarana promosi.

Pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) dan didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Republik Indonesia, Risbang, dan Kemdiktisaintek.

Dosen Akademi Farmasi Surabaya sekaligus pemateri pelatihan, Silfiana Nisa, mengatakan pelatihan tidak hanya mengajarkan cara memasarkan produk. Peserta juga diajak memahami pentingnya memberi nilai tambah agar produk lebih menarik di mata konsumen.

"Kami mengajarkan bahwa menjual produk bukan sekadar menawarkan barang. Produk juga harus memiliki nilai melalui kemasan, logo, label, hingga cara menyampaikan kepada calon pembeli," ujarnya, Jumat 26 Juni 2026.

Silfiana menyampaikan tim memilih Desa Wayut setelah melihat potensi masyarakatnya yang masih memiliki semangat gotong royong dan kerja sama yang kuat. Tradisi sedekah sayur yang dikelola DKM Masjid At-Taqwa menjadi salah satu alasan karena dinilai menunjukkan kepedulian dan kekompakan warga.

Menurutnya, modal sosial tersebut menjadi kekuatan untuk mengembangkan produk lokal secara bersama-sama.

Dalam pelatihan itu, peserta belajar menggunakan aplikasi WhatsApp sebagai media promosi yang mudah dijangkau. Mereka juga dikenalkan dengan berbagai AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Canva untuk membuat materi promosi, desain kemasan, logo, serta label produk.

Sebanyak sekitar 30 warga mengikuti pelatihan menggunakan telepon genggam sehingga materi dapat langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Tim pelaksana juga akan mendampingi peserta hingga akhir tahun agar kemampuan yang diperoleh dapat terus dikembangkan.

Silfiana menilai tantangan terbesar bukan pada penggunaan teknologi, melainkan mengubah pola pikir masyarakat dalam memasarkan produk.

"Selama ini banyak yang masih ragu menentukan harga produk. Padahal yang perlu dibangun adalah nilai produknya. Kalau nilai produknya baik, masyarakat akan lebih percaya untuk membeli," katanya.

Ia berharap produk yang dihasilkan warga tidak hanya dikenal karena kualitasnya, tetapi juga mampu memperkenalkan Desa Wayut kepada masyarakat luas.

"Kami ingin masyarakat mengenal bahwa produk ini berasal dari Desa Wayut. Jadi yang kami bangun bukan hanya produknya, tetapi juga nama desanya," pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....