Akhirnya Bukalapak Cetak Laba Besar

  • 13 Mar 2026 14:06 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Setelah bertahun-tahun identik dengan kerugian, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) akhirnya mencatatkan titik balik penting dalam perjalanan bisnisnya.

Perusahaan e-commerce yang melantai di bursa pada 2021 itu berhasil membukukan laba bersih pada tahun buku 2025, menandai perubahan signifikan dalam kinerja keuangan dan strategi operasionalnya.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang telah diaudit, Bukalapak mencatat laba bersih sebesar Rp3,15 triliun pada 2025, berbalik dari kerugian Rp1,55 triliun pada 2024.

Perubahan drastis ini menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menyeimbangkan pertumbuhan pendapatan dengan efisiensi biaya operasional.

Pendapatan bersih Bukalapak sepanjang 2025 mencapai Rp6,51 triliun, meningkat tajam dibandingkan Rp4,46 triliun pada tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ini mencerminkan ekspansi bisnis yang terus berlanjut serta peningkatan aktivitas transaksi di berbagai lini usaha perusahaan.

Namun yang lebih menarik dari sekadar pertumbuhan pendapatan adalah bagaimana perusahaan berhasil memperbaiki struktur biaya.

Beban penjualan dan pemasaran turun menjadi sekitar Rp212,7 miliar, dari sebelumnya Rp328,4 miliar pada 2024. Penurunan yang lebih drastis terjadi pada beban umum dan administrasi yang merosot menjadi Rp490,1 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan Rp1,45 triliun pada tahun sebelumnya.

Efisiensi biaya tersebut membantu Bukalapak membukukan laba usaha sebesar Rp2,42 triliun, berbanding terbalik dengan rugi usaha Rp2,51 triliun pada 2024.

Perbaikan ini menandai perubahan mendasar dalam strategi perusahaan yang sebelumnya agresif membakar dana untuk ekspansi.

Selain perbaikan operasional, kontribusi signifikan juga datang dari laba atas investasi yang mencapai Rp2,37 triliun, dibandingkan kerugian investasi Rp1,54 triliun pada tahun sebelumnya.

Pos ini menjadi salah satu pendorong utama lonjakan profitabilitas Bukalapak pada 2025.

Di sisi lain, pendapatan keuangan perusahaan juga tetap solid dengan nilai Rp818,1 miliar, didukung oleh posisi kas yang besar. Per akhir 2025,

Bukalapak memiliki kas dan setara kas sebesar Rp16,21 triliun, meningkat dari Rp11,23 triliun pada tahun sebelumnya. Posisi likuiditas yang kuat memberikan ruang bagi perusahaan untuk tetap fleksibel dalam strategi bisnisnya.

Meski demikian, keberhasilan mencetak laba tidak sepenuhnya menghapus jejak kerugian masa lalu.

Bukalapak masih mencatat akumulasi rugi sebesar Rp7,11 triliun pada neraca perusahaan. Namun angka ini sudah jauh lebih kecil dibandingkan posisi Rp10,26 triliun pada 2024, menunjukkan bahwa profit tahun ini mulai menutup kerugian historis yang telah menumpuk.

Bagi investor, pencapaian laba ini menjadi sinyal bahwa model bisnis Bukalapak mulai menemukan keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas.

Selama bertahun-tahun, perusahaan teknologi di Asia Tenggara sering dikritik karena terlalu fokus pada ekspansi pengguna tanpa jalur jelas menuju keuntungan.

Bukalapak kini tampaknya sedang mencoba membalik narasi tersebut.

Dengan biaya yang lebih terkendali, kontribusi investasi yang kuat, serta basis kas yang besar, perusahaan memasuki fase baru yang lebih menekankan keberlanjutan finansial.

Disclaimer: Bukan ajakan jual/beli.

Rekomendasi Berita