Gen Z Miliki Rumah Sendiri, Kini Bukan Lagi Mimpi

  • 25 Feb 2026 22:28 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Kota Madiun – Anggapan Generasi Z (Gen Z) atau yang lahir pada tahun 1997 sampai 2012 sulit memiliki rumah sendiri, sepertinya tidak sepenuhnya benar. Sebab, beberapa anak muda itu justru mandiri. Mereka mempersiapkan masa depan, termasuk hunian.

Hal itu, salah satunya yang sudah dilakukan Yoelda Ridhandi Pradipta. Gen Z yang kini berusia 27 tahun itu, kini telah memiliki rumah sendiri. Keinginan memiliki hunian sendiri itu, karena dia sadar, rumah bisa menjadi investasi.

Dipta, sapaan akrabnya, menceritakan keinginan membeli rumah itu muncul pada 2024 lalu. “Awalnya mikir beli rumah untuk masa depan, dan selain itu bisa diinvestasikan,” ujar pria yang tinggal di tinggal di Kelurahan Mojorejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun itu.

Keinginan itu menjadi motivasi baginya untuk mencari tempat tinggal yang diinginkan. “Saat itu saya cari perumahan, terus ada promo hanya bayar DP (Down Payment atau uang muka) Rp5 juta,” ujar pria yang bekerja sebagai petugas keamanan di RRI Madiun itu.

Dipta akhirnya memberanikan diri mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk rumah non subsidi pemerintah. Dengan rumah yang diinginkan tipe 42/63, di kawasan perumahan Majesty, Desa Mojopurno, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.

Dalam proses pengajuan, menurut Dipta, boleh dibilang tidak terlalu sulit. “Pengajuan saya dilancarkan, karena saya tidak memiliki cicilan (tanggungan kredit) di tempat lain,” ujar dia.

Kelancaran itu, karena beberapa syarat lainnya, juga bisa dipenuhi oleh Dipta. “Waktu itu, mengajukan kreditnya ke BTN (Bank Tabungan Negara). Setelah diajukan developer (pengembang perumahan), dari BTN juga survei ke rumah tinggal pertama saya,” ujar dia.

Selain itu, Dipta menjelaskan, dari pihak bank juga menyurvei ke tempat usaha. “Survei juga di tempat usaha, (Warung) Nasi Padang di (Kelurahan) Manisrejo (Kecamatan Taman, Kota Madiun),” ucap dia.

Setelah semua proses itu selesai, akad pun dilakukan. Dipta mengaku, rumah yang dimilikinya tersebut sesuai rencana awalnya, yakni bisa untuk investasi. “Rumah itu sekarang saya kontrakan, per bulan Rp800 ribu, dan dibayarnya setahun,” ujar dia.

Artinya, dia sudah mengantongi Rp9,6 juta. Uang itu, dia gunakan untuk menambah angsuran bulanan. “Ya bisa untuk tambahan. Kalau angsuran saya, tahun pertama itu Rp1,5 juta, tahun kedua Rp1,8 juta, dan tahun ke tiga Rp2,7 juta, untuk 25 tahun,” ujar dia.

Dari tambahan penghasilan uang sewa itu, menurut Dipta, angsuran itu masih bisa teratasi. “Masih aman sejauh ini. Kalaupun nanti ada kesulitan, nanti ada kemudahan dari BTN untuk bisa mengajukan restrukturisasi kredit,” ucap dia.

Lebih lanjut, Dipta mengatakan, dengan kemajuan teknologi saat ini untuk pembayaran angsuran ke BTN juga cukup mudah. “Saya transfer saya ke rekening, nanti langsung autodebet,” ucap dia.

Menurut Dipta, bisa memiliki rumah sendiri diusia muda dan belum menikah, menjadi kebanggaan tersendiri. “Pasti bangga, karena ini dari jerih payah sendiri. Kalau sudah menikah nanti (rumah) bisa langsung di tempati,” ucap dia.

Dipta menyarankan, bagi anak muda yang ingin memiliki rumah tentunya jangan ragu. “Pertama bisa nabung dulu untuk beli rumah. Saran saya, rumah tidak harus komersil, karena subsidi (pemerintah) kini juga bagus-bagus,” ucap dia.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Daerah, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (DPD Apersi) Jawa Timur H. Makhrus Sholeh S.H, mengatakan, rumah memang bisa menjadi investasi.

“Untuk perumahan itu masuk investasi pertumbuhan. Karena, rata-rata pertahun perumahan itu 10 sampai 20 persen kenaikannya. Cuma kecil sekali perumahan itu yang turun,” ujar dia saat menjadi narasumber RRI Madiun.

Makhrus membeberkan perumahan yang memiliki nilai akan naik kedepannya “Kalau orang bilang satu lokasi, dua lokasi, tiga lokasi. Kalau bagi saya tidak hanya itu, tapi pastikan juga transaksi yang baik,” ujar dia.

Untuk lokasi, dia menyarankan di tempat yang sedang bertumbuh. Sementara untuk transaksi yang baik, adalah bisa mendapatkan harga dibawah rata-rata. “Jadi kita sudah untung diawal. Kemudian, pola pembayaran bisa terjadwal,” ucap dia.

Selain itu, jika ingin membeli rumah pastikan kredibilitas pengembangnya. “Cari pengembang yang profesional. Bandingkan jangan hanya satu pengembang. Bisa lima sampai 10 pengembang. Kalau di kota kecil minimal tiga,” ucap dia.

Pastikan juga pengembang tersebut ikut sudah bersertifikasi dan tergabung asosiasi. “Pastikan sertifikat (pengembang), site plan (perumahan) dan PBG (Persetujuan Bangunan Gedung), karena banyak penipuan itu, property dijual tapi tanah masih milik orang lain,” ujar Makhrus.

Lalu, bisa memastikan proyek yang dikerjakan pengembang tersebut sebelumnya. “Kita bisa cek ke lokasi yang dikembangkan developer sebelumnya. Apakah bangunan bagus, bertumbuh, pelanggan puas dan tidak tertipu,” ucap dia.

Lebih lanjut, Makhrus mengatakan, jika ingin membeli rumah, usahakan di lokasi yang baru akan dibangun. “Sebab biasanya disitu pengembang akan memberikan promo (harga). Termasuk rumah FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan),” ucap dia.

Promo biasanya tidak hanya potongan harga rumah, namun bisa gratis biaya SHM (sertifikat hak milik) atau bebas biaya Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). “Ini bisa dimanfaatkan, selain kita bisa lebih bebas memilih lokasi,” ucap dia.

Rekomendasi Berita