Upaya Agar Pasar di Kabupaten Madiun Ramai Kembali
- 30 Jan 2025 16:19 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun: Beragam cara dilakukan agar pasar tradisional tidak ditinggalkan pembeli. Di Kabupaten Madiun, selain perbaikan infrastruktur, penataan pasar hingga pelatihan terhadap pedagang agar memanfaatkan media digital juga terus dilakukan.
Sekretaris Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdagkop UM) Kabupaten Madiun Agus Suyudi mengatakan, di Kabupaten Madiun terdapat 58 pasar, namun yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah (pemda) ada 20 pasar.
“Sisanya adalah pasar yang dikelola oleh desa, pendapatan masuk desa. Kami tidak bisa berbuat banyak pada pasar desa. Kami hanya bisa membina pedagangnya,” ujar dia saat dihubungi Halo RRI, Pro 1 RRI Madiun.
Agus mengatakan, pembeli yang datang ke pasar tradisional saat ini memang berkurang. Untuk itu, agar pembeli mau kembali, dan penjual tetap mendapatkan pemasukan, beragam cara terus dilakukan.
“Seperti, kami adakan pelatihan untuk pedagang pasar. Bagaimana bisa transaksi online,” ujar dia. Hal ini sudah berjalan di beberapa pasar di Kabupaten Madiun. “Pedagang sudah ada yang menerapkan, kalau belanja cukup WA (WhatsApp) dengan nilai berapa bisa diantar,” ucap dia.
Agus mejelaskan, Disperdagkop UM Kabupaten Madiun juga sudah mengajarkan pada berdagang dalam memberikan layanan pada pembeli. “Kami sudah turun ke pasar memberikan edukasi, cara berjualan baik, jangan tipu kemasan, ukuran timbangan kami teliti,” ujar dia.
Artinya, jelas Agus, pasar itu sesuai dengan apa yang dijual. “Selama setahun ini, bahkan kami dapat sebelas penghargaan sebagai pasar tertib ukur,” ucap dia. Dengan ukuran yang sesuai, diharapkan pembeli yakin dan mau terus berbelanja ke pasar tradisional.
Agus mengatakan, penataan pasar selama ini juga terus dilakukan. “Kami pernah studi tiru ke Bandung dan Kota Malang, ke wilayah pasar yang sudah SNI (Standar Nasional Indonesia),” ujar dia.
Dari sini, banyak hal yang bisa ditiru untuk diterapkan di Kabupaten Madiun. “Kami belajar bagaimana cara jualan yang baik, kebersihan sampah dan lainnya. Memang tidak semudah membalik telapan tangan, tapi kami berharap ada sedikit perubahan,” ucap dia.
Salah satu yang kini terus ditata adalah zonasi. “Kami ingin ada zonasi. Selama ini antar pedagang, contoh mau cari sayur harus masuk ke dalam dekat dengan konveksi. Kami sudah studi tiru ke daerah lain, zonasi itu menguntungkan pedagang dan pembeli,” ucap dia.
Di Pasar Sambirejo misalnya, pada 2016 sudah dibangun zonasi. “(Seperti zonasi) sayur, pakaian, dan warung. Tapi kenyataannya kembali ke mindset pedagang. 1-2 dari mereka berubah lagi. Konsepnya akhirnya tidak sesuai dengan yang kami harapkan,” ujar dia.
Kemudian, jelas Agus, di Pasar Dolopo. “Itu ada problem di sana. November sudah kami masukan pedagang di luar untuk masuk ke dalam pasar. Sudah terpenuhi, akhirnya jalan dibuat pasar bisa untuk lalu lintas lagi,” ujar dia.
Namun, keluhan pengunjung, kenapa harus masuk ke dalam pasar, kalau di luar sudah ada pedagang? “Akhirnya orang-orang yang sudah ada di dalam pasar keluar lagi. Tapi akhirnya bisa kita minta lagi ke dalam,” ucap dia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....