Hari Dharma Samudra, Semangat Yang Terlupakan
- 14 Jan 2024 19:11 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun : Tanggal 15 Januari besuk diperingati sebagai Hari Peristiwa Laut dan Samudera, atau Hari Dharma Samudera yang kali ini untuk ke 62 tahun. Dibanding hari peringatan yang lain, mungkin Hari Dharma Samudra kurang ada gemanya, tidak meriah, hanya diperingati kalangan tertentu, bahkan banyak masyarakat Indonesia yang tidak tahu hari bersejarah itu.
Hari Dharma Samudera merupakan hari peringatan atas tragedi yang terjadi Laut Arafuru atau laut Aru, tanggal 15 Januari 1962.Kejadian pertempuran di Laut Arafuru Maluku, dilatarbelakangi oleh misi mempertahankan wilayah Irian Barat.
Pada Januari tahun 1962, Presiden Soekarno memberi perintah kepada Menteri / Panglima Angkatan Laut Laksamana Raden Eddy Martadinata untuk melakukan infiltrasi ke wilayah Irian Barat.
Perintah ini merupakan bagian dari amanat Soekarno pada 19 Desember 1961 yang disebut Tri Komando Rakyat (Trikora), satu diantara amanatnya yaitu "kibarkan bendera Merah Putih di bumi Irian Barat".
Hal ini karena sejak berakhirnya Konferensi Meja Bundar (KMB), Pemerintah Indonesia dan Belanda bersengketa mengenai kekuasaan di wilayah Irian Barat.// Pemerintah Belanda terus mempertahankan Irian Barat, sementara Indonesia masih menemui jalan buntu untuk membawa persengketaan ini ke Sidang Umum PBB. Hal tersebut membuat Indonesia melancarkan operasi senyap atau operasi rahasia.
Pada tanggal 9 Januari 1962 malam, tiga kapal Motor Torpedo Boat MTB yang bertugas, bergerak meninggalkan pangkalannya di Tanjung Priok, Jakarta. Ketiganya yaitu KRI Harimau berada di depan, antara lain membawa Kolonel Sudomo, Kolonel Mursyid, dan Kapten Tondomulyo. Kemudian KRI Matjan Tutul yang dinaiki Komodor Yos Sudarso dan KRI Matjan Kumbang yang dipimpin Kapten Sidhoparomo. Selama pelayaran, ketiga kapal berada pada kondisi Total Black Out dan Radio Silence, bahkan tidak ada lampu penerangan yang dihidupkan.
Namun rencana infiltrasi dalam operasi senyap tersebut, ternyata diketahui oleh Belanda.
Menurut situs Kebudayaan Kemendikbud, ketiga KRI berpapasan dengan kapal perang Belanda dan pesawat tempurnya, sehingga perang di Laut Arafuru pada 15 Januari 1962 tidak dapat dihindari. Saat itu, kekuatan Angkatan Laut Indonesia tidak seimbang dengan kekuatan Belanda, sehingga Komodor Yos Sudarso dan prajurit di KRI Macan Tutul, gugur dalam pertempuran.
Kiranya, dalam peringatan Hari Dharma Samudera kali ini, kita harus mengenang pesan heroik Komodor Yos Sudarso sebelum gugur, “Kobarkan Semangat Pertempuran”.
Di masa damai, semangat kiranya juga harus tetap dikobarkan, untuk mengisi kemerdekaan dan menjaga keutuhan NKRI yang telah diperjuangkan dengan segenap jiwa dan raga bahkan nyawa, seperti gugurnya Komodor Yos Sudarso. *)
Penyusun : Imam Suyanto
*) Disampaikan Dalam komentar Warta Pagi Minggu, 14 Januari 2024