Ustadz Santoso Ajak Pemegang Kekuasaan Muhasabah dan Terbuka terhadap Nasihat
- 18 Sep 2026 18:00 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Persoalan kerusakan lingkungan dan berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat menjadi momentum untuk melakukan evaluasi bersama. Muhasabah, menurut tokoh agama di Madiun, Ustadz Santoso, tidak hanya ditujukan kepada masyarakat secara umum, tetapi juga kepada mereka yang memiliki tanggung jawab dan kedudukan dalam kehidupan berbangsa.
Ustadz Santoso, S.Ag., M.M. mempertanyakan pihak yang harus melakukan evaluasi atas berbagai persoalan tersebut. Apakah menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat, pihak-pihak tertentu, atau mereka yang memiliki kewenangan.
“Siapa yang berdosa di dalam hal ini? Apakah seluruh rakyat Indonesia? Ataukah orang-orang tertentu? Ataukah pemerintah yang berkuasa? Ini menjadi evaluasi bagi kita semua,” ujarnya, kemarin.
Ia menilai, jabatan dan kedudukan seharusnya dipahami sebagai amanah untuk melayani masyarakat. Menurutnya, pemahaman mengenai kekuasaan sebagai sarana pelayanan perlu dimiliki oleh setiap orang yang mendapatkan amanah, mulai dari tingkat pemerintahan tertinggi hingga lingkungan masyarakat.
“Abdi negara itu artinya melayani daripada rakyatnya,” katanya.
Lebih lanjut, Ustadz Santoso mengingatkan pentingnya keterbukaan seorang pemimpin terhadap masukan dan nasihat. Menurutnya, orang yang memberikan kritik atau nasihat tidak semestinya dipandang sebagai pihak yang memusuhi atau menyaingi.
Ia menyebut, persoalan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi, khususnya ketika masyarakat sedang menghadapi kondisi musim kemarau. Perubahan kondisi alam, menurutnya, dapat menjadi momentum untuk melakukan introspeksi, baik terhadap perilaku individu maupun cara manusia menjalankan amanah dan tanggung jawabnya.
Ustadz Santoso kembali menekankan bahwa muhasabah perlu dilakukan bersama. Masyarakat maupun mereka yang memiliki amanah dan kewenangan perlu melihat kembali tindakan masing-masing agar kehidupan sosial dan lingkungan dapat berjalan secara seimbang.
Dengan demikian, momentum musim kemarau tidak hanya dimaknai sebagai perubahan kondisi cuaca, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperkuat kesadaran manusia dalam menjaga alam, menjalankan amanah, serta membangun kehidupan yang saling menghargai dan terbuka terhadap nasihat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....