Bencana Jadi Pengingat agar Manusia Introspeksi dalam Mengelola Alam

  • 02 Sep 2026 07:32 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Berbagai bencana dan musibah yang terjadi di berbagai wilayah hendaknya tidak hanya dipandang sebagai cobaan, tetapi juga menjadi momentum bagi manusia untuk melakukan introspeksi terhadap perilakunya dalam mengelola alam.

Hal tersebut disampaikan Ustadz Santoso, S.Ag., M.M., dalam program Mutiara Pagi RRI Madiun. Ia mengingatkan bahwa segala sesuatu yang diberikan Allah SWT kepada manusia pada hakikatnya mengandung kebaikan, meskipun terkadang manusia memandangnya sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan.

“Allah tidak akan memberikan sesuatu yang jelek bagi kita. Allah memberikan sesuatu yang terbaik untuk kita. Kita rasakan tidak baik, tetapi Allah mengatakan itu adalah lebih baik bagi kita,” ujar Ustadz Santoso.

Menurutnya, manusia sering kali hanya menilai sesuatu berdasarkan apa yang dirasakan saat ini. Padahal, sesuatu yang dianggap menyenangkan belum tentu memberikan dampak baik dalam jangka panjang. Sebaliknya, sesuatu yang dirasakan berat atau tidak menyenangkan bisa saja mengandung kebaikan.

Dalam konteks berbagai bencana yang terjadi di Indonesia, Ustadz Santoso menegaskan bahwa musibah tidak serta-merta menunjukkan bahwa Allah SWT membenci manusia. Sebaliknya, bencana dapat menjadi pengingat untuk menguji dan memperkuat keimanan sekaligus mendorong manusia mengevaluasi perilakunya.

“Bencana, musibah sebenarnya bukanlah Allah benci kepada kita. Allah ingin melihat masihkah kita percaya kepada-Nya bahwa Allah itu Maha segala-galanya,” jelasnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali bagaimana manusia selama ini memperlakukan dan mengelola alam. Menurutnya, manusia perlu menyadari bahwa alam diciptakan dengan fungsi dan manfaat masing-masing, sehingga pemanfaatannya tidak boleh dilakukan secara berlebihan dan merusak keseimbangan.

Ustadz Santoso mencontohkan eksploitasi kawasan gunung dan lingkungan yang dapat memengaruhi kondisi alam. Material dari kawasan pegunungan, misalnya, banyak dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan pembangunan. Di sisi lain, kondisi sungai yang mengalami pendangkalan juga menjadi salah satu persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian.

“Bagaimana kita mengelola alam ini? Apakah kita sudah lupa dengan tujuan Allah menciptakan alam ini? Ataukah kita merasa lebih berkuasa daripada Allah?” katanya.

Selain persoalan eksploitasi alam, ia menyoroti kebakaran hutan yang terjadi di berbagai wilayah. Menurutnya, berbagai kerusakan tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi bersama agar manusia tidak mengabaikan fungsi setiap ciptaan Allah SWT.

“Karena kita tidak berpikir bahwa setiap yang Allah ciptakan ada fungsi dan kegunaannya,” ungkapnya.

Ustadz Santoso kemudian mengingatkan pesan Al-Qur'an dalam Surah Ar-Rum ayat 41 mengenai kerusakan di daratan dan lautan yang berkaitan dengan perbuatan manusia. Ayat tersebut menjadi pengingat agar manusia bertanggung jawab menjaga lingkungan dan tidak melakukan tindakan yang menimbulkan kerusakan.

Ia berharap berbagai bencana yang terjadi dapat menjadi i'tibar atau pelajaran bagi masyarakat. Selain meningkatkan keimanan dan ketakwaan, manusia juga perlu memperbaiki cara memperlakukan alam agar kehidupan tetap berjalan secara seimbang.

Dengan demikian, musibah tidak hanya menjadi peristiwa yang diratapi, tetapi juga momentum untuk memperbaiki diri, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, dan menyadari bahwa manusia memiliki tanggung jawab dalam menjaga alam yang telah diberikan Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....