Jadi Momentum Muhasabah, Ustadz Santoso Ingatkan Dampak Kerusakan Alam

  • 18 Sep 2026 18:06 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Musim kemarau maupun musim hujan merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang perlu direnungkan dan dipahami manusia. Perubahan musim memiliki tujuan dan manfaat bagi kehidupan, sehingga manusia dituntut menjaga keseimbangan alam.

Hal tersebut disampaikan tokoh agama di Madiun, Ustadz Santoso, S.Ag., M.M. Menurutnya, manusia perlu menyadari bahwa kondisi alam merupakan bagian dari ayat-ayat Allah SWT atau ayat kauniyah yang mengandung pelajaran bagi kehidupan.

Ustadz Santoso mengingatkan, kerusakan lingkungan yang terjadi akibat ulah manusia pada akhirnya dapat berdampak kembali kepada manusia itu sendiri. Ketika bumi tidak lagi terjaga keseimbangannya, kehidupan manusia dapat menjadi semakin sulit.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam QS Ar-Rum ayat 41 yang menjelaskan bahwa kerusakan di daratan dan lautan terjadi akibat perbuatan tangan manusia.

“Zuharul fasada fil barri wal bahri bima kasabat aidin nas,” ungkapnya, kemarin.

Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak melakukan tindakan yang merusak bumi. Jika lingkungan dijaga dengan baik, keseimbangan antara alam dan seluruh makhluk yang hidup di dalamnya dapat tetap terpelihara.

Ustadz Santoso menegaskan, menjaga kelestarian alam tidak cukup hanya dipahami secara teori, seperti menanam pohon atau menjaga kawasan hutan lindung. Hal yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran agar manusia tidak melakukan tindakan secara berlebihan terhadap lingkungan.

“Terpenting adalah bagaimana kita ini sadar apabila melakukan sesuatu yang berlebihan itu tidak hanya teori yang akan dimusnahkan, tetapi kita semua, generasi kita semua akan binasa,” jelasnya.

Ia menambahkan, musim kemarau dapat menjadi momentum bagi manusia untuk melakukan introspeksi terhadap berbagai aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan. Kemarau, menurutnya, merupakan bagian dari ayat kauniyah, yakni keadaan alam yang Allah SWT ciptakan sebagai bagian dari kehidupan di bumi.

Dalam konteks tersebut, masyarakat juga perlu memahami berbagai faktor yang dapat memperburuk kondisi kemarau, termasuk terjadinya kebakaran, baik kebakaran hutan maupun kebakaran di lingkungan permukiman.

Ustadz Santoso mengajak masyarakat menjadikan perubahan musim bukan sekadar fenomena alam yang dilewati, tetapi sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran dalam menjaga bumi.

Kelestarian alam menjadi tanggung jawab bersama agar keseimbangan lingkungan tetap terjaga dan dapat memberikan manfaat bagi generasi yang akan datang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....